Kinshasa, (Antara/Reuters) - Republik Kongo telah mengusir lebih dari 50 ribu warga Republik Demokratik Kongo (DRC) selama bulan lalu, kata pihak berwenang di Kinshasa, Kamis, sebuah langkah yang langka pada skala itu dalam hubungan antara kedua negara yang bertetangga tersebut. Pejabat di Brazzaville, ibu kota Republik Kongo, mengatakan operasi tersebut bertujuan untuk mengakhiri gelombang kejahatan terkait dengan orang asing, dan bahwa semua mereka yang tinggal di negara itu secara ilegal, bukan hanya orang-orang dari DRC, menjadi sasaran. Pemerintah Kinshasa telah menyatakan keprihatinan tentang cara pelaksanaan operasi itu tetapi mengatakan pihaknya berusaha untuk mengatasi masalah tersebut melalui saluran diplomatik. "Sampai kemarin, kami telah menghitung 52.226 orang diusir dari Brazzaville," kata Andre Kimbuta Yango, Gubernur Kinshasa. Operasi itu, yang dijuluki "Tamparan yang menyakitkan" dalam bahasa setempat, Lingala, dimulai pada tanggal 3 April. Ada ikatan etnik dan komersial yang kuat antara ibu kota kedua negara, yang dipisahkan oleh Sungai Kongo. Meskipun ada ketegangan politik sporadis, pengusiran pada skala ini jarang terjadi. Mereka yang dipaksa untuk meninggalkan Brazzaville dan tidak memiliki tempat untuk tinggal di Kinshasa ditampung dalam sebuah stadion terbuka. "Saya telah tinggal di Brazzaville sejak 2010 dan memiliki semua surat-surat saya. Tapi polisi merobeknya, menuduh saya sebagai anggota geng," kata seorang wanita yang diusir namun tidak mau menyebutkan namanya. Hugues Ngoulondele, Wali Kota Brazzaville, mengatakan beberapa polisi di Republik Kongo telah dihukum karena pelanggaran tapi operasi itu bagian dari operasi keamanan. "Untuk beberapa waktu, kami telah melihat peningkatan aksi kekerasan kriminal di Brazzaville yang telah disalahkan pada orang asing, termasuk dari Kamerun, Chad dan DRC, yang berada di Kinshasa secara ilegal," katanya. Masyarakat di kedua sisi sungai berbicara bahasa yang sama dan memiliki kapal pengangkut barang dan orang antara dua kota. Ada rencana lama untuk membangun jembatan melintasi Sungai Kongo untuk menghubungkan dua kota itu. Namun, ketegangan yang telah berkobar di masa lalu seringkali berujung pada kedua belah pihak mengusir warga pihak lain. Tunda Ya Kasende, Wakil Menteri Luar Negeri DRC, mengatakan Kinshasa khawatir oleh beberapa metode yang digunakan oleh pihak berwenang di seberang sungai. Dia tidak menyebutkan metode yang dimaksud. "Tujuannya adalah untuk melindungi warga. Saluran diplomatik terbuka," katanya. (*/sun)