Jakarta, (Antara) - Perseroan Terbatas Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menyalurkan kredit hingga kuartal pertama 2014 sebesar Rp47 triliun (tahun ke tahun) atau tumbuh 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp41 triliun. "Dampak dinamika perekonomian yang terjadi sejak semester kedua 2013 masih berlanjut hingga kini. Kami tentu bersyukur tetap bisa tumbuh di tengah situasi perekonomian yang penuh tantangan," kata Direktur Utama BTPN Jerry Ng dalam keterangan pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa. Jerry menyatakan bahwa kondisi perekonomian nasional masih dibayang-bayangi oleh inflasi tinggi, kenaikan suku bunga simpanan, dan pemulihan ekonomi global. Situasi tersebut mendorong perbankan melakukan sejumlah penyesuaian, termasuk memperlambat laju kredit. "Kami optimistis setelah itu industri bisa bertumbuh lebih baik," ujar Jerry. Kenaikan penyaluran kredit BTPN, lanjutnya, tetap diimbangi dengan penerapan asas kehati-hatian yang tercermin dari NPL gross 0,7 persen pada akhir Maret 2014, tidak berbeda dari NPL gross akhir Maret 2013. Pertumbuhan kredit dan NPL rendah ini tidak terlepas dari strategi pihaknya yang memberikan pelatihan dan pendampingan berlanjutan kepada debitur. Pelatihan dan pendampingan yang dikenal dengan Program Daya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas nasabah pensiunan, pelaku usaha mikro & kecil (UMK), serta komunitas prasejahtera produktif. "Nasabah yang disiplin mempraktikkan pelatihan keuangan dalam mengelola usahanya, merasakan langsung manfaat program Daya," kata Jerry. Sepanjang tiga bulan pertama 2014, BTPN telah menyelenggarakan 46.233 aktivitas Daya, tumbuh 194 persen dari periode yang sama pada tahun 2013, sedangkan jumlah peserta Daya mencapai 566.772 nasabah, atau meningkat 101 persen (yoy). Data tersebut, kata dia, menunjukkan tingginya minat nasabah mass market untuk mengikuti pemberdayaan yang dapat meningkatkan kapasitas usaha mereka. Sejalan dengan langkah perusahaan untuk memperlambat laju kredit, BTPN menyeimbangkan porsi pendanaan dengan memperhatikan kecukupan likuiditas. Per 31 Maret 2014, dana pihak ketiga (DPK) BTPN tercatat Rp49,3 triliun, tumbuh 6 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp46,6 triliun. "Dengan strategi ini, loan to deposit ratio (LDR) terjaga di level 95 persen. Apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi, rasio likuiditas kami mencapai 84 persen, sangat kuat dan sehat," kata Jerry. Pertumbuhan yang cukup moderat di sisi kredit dan DPK, mendorong peningkatan aset BTPN sebesar 8 persen (tahun ke tahun) dari Rp62,6 triliun menjadi Rp67,3 triliun pada bulan Maret 2014. Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 24 persen, jauh di atas ambang batas ideal yang ditentukan regulator. Jerry menyatakan optimistis terhadap pertumbuhan BTPN ke depan. "Dengan CAR yang kuat, dan utamanya dengan bergabungnya Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) menjadi salah satu pemegang saham pengendali, kami yakin akan makin memperkuat bisnis dan pertumbuhan BTPN kedepan," ujar Jerry. Pada tanggal 14 Maret 2014, SMBC telah menyelesaikan pembelian saham BTPN. Kini BTPN memiliki dua pemegang saham pengendali yang kredibel dan terpercaya, yakni TPG Nusantara S.a.r.l (25,88 persen) dan SMBC (40 persen). Keberadaan dua pemegang saham pengendali diyakini akan memberikan dampak positif atas kinerja BTPN. Pada kuartal pertama 2014 BTPN juga membukukan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp493 miliar. Jika dibandingkan laba bersih selama kuartal keempat 2013 (quarter over quarter/QoQ), laba bersih kuartal pertama 2014 tumbuh 8 persen. Lebih lanjut Jerry mengungkapkan bahwa di tengah dinamika ekonomi yang cukup menantang, BTPN tetap konsisten melanjutkan investasi dan ekspansi, antara lain dengan mengakusisi Bank Sahabat Purba Danarta, memperluas jaringan distribusi, dan terus mengembangkan unit usaha syariah yang berfokus melayani masyarakat prasejahtera produktif. "Bisnis model syariah yang kami kembangkan sangat padat karya. Saat ini unit usaha syariah BTPN memiliki 8.275 karyawan, dan selama kuartal pertama 2014 kredit yang disalurkan kepada para nasabah prasejahtera produktif mencapai Rp1,6 triliun, atau tumbuh 161 persen dibandingkan kuartal pertama 2013," tutup Jerry. (*/sun)