Apindo Nilai Industri Komponen Masih Lemah
Rabu, 26 Februari 2014 20:14 WIB
Jakarta, (Antara) - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai bahwa industri komponen di dalam negeri masih lemah, sehingga mengakibatkan melonjaknya impor produk tersebut dan menyebabkan defisit neraca perdagangan Indonesia.
"Kekurangan kita ada dua hal di mana tidak mempunyai industri hilir dan komponen, bahan baku serta komponen harus impor semua," kata Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanandi, dalam jumpa pers, di Jakarta, Rabu.
Sofjan mengatakan, dengan tidak adanya industri komponen tersebut, pada saat perekonomian Indonesia naik yang dibarengi dengan penjualan, maka importasi bahan baku dan komponen tersebut akan melejit yang menyebabkan neraca perdagangan tertekan.
"Selalu pada saat ekonomi dan penjualan naik, kita akan terkena defisit neraca perdagangan karena komponen dan bahan baku harus impor," kata Sofjan.
Sofjan menjelaskan, sesungguhnya dengan adanya importasi bahan baku dan juga komponen tersebut biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan membeli produk serupa dari dalam negeri.
"Dua sektor industri tersebut yang harus segera kita punya," ujar Sofjan.
Berbeda dengan China, lanjut Sofjan, semua sisi industri di negeri Tirai Bambu tersebut sudah terintegrasi dan menyebabkan harga produk akhir barang-barang asal negara itu mampu bersaing dalam pasar global.
"Jika tidak ada industri hulu sampai hilir yang kuat, kita tidak akan bisa bersaing," kata Sofjan.
Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, total nilai impor bahan baku penolong pada periode Januari hingga November 2013 mencapai 130,1 miliar dolar Amerika Serikat, naik 1,06 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2012 senilai 128,7 miliar dolar AS.
Untuk kategori bahan baku yang belum diolah untuk sektor industri dalam negeri, importasi pada periode tersebut sebesar 5,8 miliar dolar AS, naik 12,59 persen dari sebelumnya tercatat 5,1 miliar dolar AS.
Kenaikan serupa juga dicatat oleh impor suku cadang dan perlengkapan alat angkutan dari sebelumhya sebesar 8 miliar dolar AS, naik 1,88 persen menjadi 8,2 miliar dolar AS.
Sementara untuk suku cadang dan perlengkapan barang modal mengalami penurunan sebesar 6,17 persen dari sebelumnya 16,5 miliar dolar AS menjadi 15,5 miliar dolar AS dalam periode yang sama. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wako Pariaman nilai Galaksi Fourpa Cup 2026 bentuk karakter positif generasi muda
30 April 2026 12:32 WIB
Hadiri pelantikan, Pj Sekda Padang : LAKAM Padang punya peran strategis jaga nilai adat budaya
25 April 2026 14:34 WIB
Bundo Kanduang Solok studi tiru ke Pariaman terkait penguatan nilai adat pada Catin
22 April 2026 17:15 WIB
Kunjungi rumah contoh, BNPB nilai Sepablock cocok untuk Huntap Berkelanjutan
22 April 2026 17:02 WIB