Kairo, (Antara/AFP) - Pengadilan Mesir pada Sabtu membebaskan enam polisi, yang dituduh membunuh pengunjukrasa dalam pemberontakan terhadap Hosni Mubarak, sementara penggantinya, Mohamed Moursi, kembali disidang. Pembebasan enam polisi itu, yang dituduh membunuh 83 penentang di luar kantor polisi di kota Iskandariyah, laut Tengah, terjadi saat pengadilan Kairo memulai kembali menyidangkan Moursi atas tuduhan bersekongkol melakukan kekerasan selama pemberontakan itu. Moursi digulingkan oleh militer Juli tahun lalu setelah protes-protes massa menuntut pengunduran dirinya. Sejak itu ia dan kelompok Ikhawanul Musliminnya telah dituduh melakukan banyak aksi kekerasan dalam pemberontakan anti-Mubarak. Moursi, dan 130 terdakwa lainnya termasuk para warga Palestina dan Lebanon, kini diadili karena melakukan pembobolan penjara dan menyerang kantor-kantor polisi dalam pemberontakan itu. Sidang Sabtu itu adalah yang kedua, setelah dimulai Januari. Itu adalah salah satu dari tiga tuduhan yang dihadapi Moursi. Hampir 850 orang tewas dalam pemberontakan 18 hari yang menggulingkan Mubarak, sebagian besar pada 28 Januari 2011, ketika para pemrotes berhadapan dengan polisi. Banyak dari mereka yang tewas terjadi di luar kantor-kantor polisi ketika para pemeotes menyerang apa yang mereka lihat sebagai simbol-simbol pemerintah otokrasi Mubarak. Lebih dari 12 polisi diadili termasuk para komandan pnting. Mubarak sendiri dihukum penjara seumur hidup atas keterlibatannya dalam pembunuhan, tetapi memenangkan sidang ulangan setelah permohonan bandingnya diterima. Sebagian besar telah dibebaskan. Awal bulan ini, satu pengadilan lain membatalkan hukuman terhadap seorang polisi yang dihukum lima tahun penjara atas tuduhan-tuuduhan membunuh 18 pemrotes. Enam polisi itu yang dibebaskan Sabtu itu termasuk mantan komandan polisi di Islkandariyah. Mereka meneriakkan "Panjang umum pengadilan" atas putusan pengadilan itu. Dalam tiga tahun sejak penggulingan Mubarak, yang dituduh melakukan pembunuhan dalam pemberontakan itu kini giliran Ikhawanul Muslimin di mana Moursi berasal semenara polisi telah merehabilitasi dirinya dalam opini publik. Para jaksa menuduh serangan-serangan terhadap kantor-kantor polisi dan pembbolan penjara, di mana Moursi dan para tahanan politik lainnya melarikan diri, adalah satu persekongkolan yang menimbulkan kekacauan di Mesir. Moursi menghadapi satu sidang terpisah atas kegiatan spionase, di mana ia dituduh bersekongkol dengan para gerilyawan asing dan pemerintah asing untuk melancarkan serangan di negara itu. Penyidagan ulang Mubarak dan tujuh komandan polisi atas tuduhan-tuduhan terlibat dalam pembunuhan para pemrotes masih berlanjut. (*/sun)