Brahimi: Perundingan Perdamaian Suriah Tak Banyak Menghasilkan
Sabtu, 15 Februari 2014 21:06 WIB
Beirut, (Antara/Reuters) - Perantara internasional Lakhdar
Brahimi pada Sabtu mengatakan dua putaran pertama perundingan perdamaian Suriah tidak banyak membuat kemajuan, namun mengatakan kedua pihak menyepakati agenda untuk putaran ketiga pada tanggal belum ditentukan.
Dia mengatakan, "Sidang terakhir putaran kedua pembicaraan itu
melelahkan, karena banyak pertemuan, tetapi kami sepakat mengenai agenda untuk putaran berikutnya ketika itu tidak terjadi, mengacu pada yang akan dibahas, termasuk kekerasan dan terorisme, badan peralihan, lembaga nasional dan rujuk bangsa.
"Saya minta maaf bahwa dua putaran ini belum menghasilkan dengan sangat banyak," katanya, dan menambahkan pemerintah Suriah menolak sarannya bahwa pada putaran pembicaraan berikutnya, para pihak menangani dengan memerangi "terorisme" pada hari pertama dan badan pemerintah transisi pada hari kedua.
Delegasi Pemerintah Suriah dan oposisi pada Jumat mengakui babak kedua Konferensi Jenewa II gagal menghasilkan kemajuan apa pun.
Saat babak pembicaraan perdamaian Suriah itu memasuki hari kelima, Utusan Khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah Lakhdar Brahimi --penengah bagi proses perdamaian-- menyelenggarakan pertemuan terpisah dengan pihak yang bertikai.
Perundingan saat ini memasuki penetapan agenda pembahasan, namun kedua pihak tidak bergeser sedikit pun dari posisi mereka.
Pihak pemerintah berkeras bahwa penghentian kerusuhan dan aksi teror harus menjadi prioritas utama, sedangkan oposisi memusatkan perhatian pada pembentukan pemerintah peralihan dengan hak eksekutif penuh dan tanpa kehadiran Presiden Bashar al-Assad.
Dalam taklimat yang diselenggarakan masing-masing oleh kedua pihak pada Jumat siang, setelah pertemuan itu, suasana suram merebak; satu pihak menuduh pihak lain kurang memiliki komitmen.
"Saya ingin menyuarakan penyesalan yang mendalam bahwa babak ini tidak membuat kemajuan apa pun," kata Faisal Makdad, Wakil Menteri Luar Negeri Suriah, sebagaimana dikutip Xinhua.
Diplomat senior Pemerintah Suriah itu kembali menegaskan delegasinya, yang bertujuan "melaksanakan posisi yang diumumkan Suriah guna mencapai penyelesaian politik bagi krisis yang dihadapi negerinya", berkeras mereka bersedia membahas masalah lembaga peralihan segera setelah kesepakatan dicapai mengenai upaya memerangi aksi teror.
Makdad menuduh pihak lain mengabaikan keberadaan pelaku teror di Suriah, dan mengatakan pihak oposisi mengusulkan agenda "yang tidak realistis" dan menolak untuk membicarakan masalah lain.
Sementara itu, Louay As-Safi, Juru Bicara delegasi oposisi, mengakui kebuntuan pada babak saat ini.
As-Safi menekankan dokumen 22-pasal yang diajukan oleh delegasinya awal pekan ini, yang menjabarkan psinsip dan langkah yang mereka usulkan guna membimbing proses peralihan di Suriah, termasuk pembentukan badan pemerintah peralihan, gencatan senjata dan pembebasan tahanan dan lain-lain.
Sejauh ini tidak jelas apakah ada pertemuan yang dijadwalkan pada Sabtu. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tahap kedua pembahasan gencatan senjata Gaza berlanjut akhir pekan ini
05 February 2025 9:01 WIB, 2025
Indonesia-Sri Lanka sepakat dorong perundingan perjanjian dagang istimewa
13 February 2022 11:02 WIB, 2022
Kadin : Pengusaha tak mampu bayar THR segera lakukan perundingan bipartit
01 May 2021 13:17 WIB, 2021
Saham-saham Wall Street bervariasi, pasar berhati-hati tentang perdagangan global
09 May 2019 7:05 WIB, 2019
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018