Uruguay Tawarkan Diri Jadi Penengah Perundingan Perdamaian Kolombia
Jumat, 24 Januari 2014 7:06 WIB
Montevideo,(Antara/AFP) - Presiden Uruguay Jose Mujica mengungkapkan rencananya bertemu di Havana dengan Presiden Kolombia Juan Manuel Santos dan para pemimpin gerilya FARC untuk mendesak mereka mempercepat perundingan perdamaian.
Tawaran Mujica untuk menjadi penengah itu disampaikan ketika Kolombia meningkatkan operasi militer terhadap kelompok pemberontak tersebut, yang menurut militer menewasksan 26 gerilyawan dalam serangkaian bentrokan sejak akhir pekan.
Mujica, seorang mantan gerilyawan kiri, mengatakan kepada mingguan Busqueda dalam wawancara yang diterbitkan Kamis, ia akan bertemu dengan kedua pihak pekan depan di Havana setelah pertemuan puncak Amerika Latin.
"Saya akan berbicara dengan Presiden Juan Manuel Santos dan FARC," katanya.
"Saya ingin terus membantu sekali lagi -- secara konkrit, untuk mempercepat proses negosiasi," lanjutnya.
"Tidak pernah sebelumnya dalam 50 tahun sejak konfrontasi ini dimulai, perdamaian begitu dekat. Ini adalah tujuan utama dan patut mendapat dukungan," tambahnya.
Perundingan antara kedua pihak dimulai lagi Senin lalu (13/1)setelah penghentian selama tiga pekan.
Selama lebih dari setahun, pemerintah Presiden Juan Manuel Santos dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) melakukan perundingan perdamaian di Kuba dengan tujuan mengakhiri konflik terlama Amerika Latin itu.
Dari lima poin agenda, kedua pihak sejauh ini baru mencapai dua kesepakatan -- reformasi tanah dan keikutsertaan kelompok pemberontak itu dalam politik jika mereka mengakiri perang yang telah berlangsung hampir 50 tahun. Masalah-masalah lain yang diagendakan adalah perdagangan narkoba, ganti-rugi korban perang dan diakhirinya konflik.
FARC untuk pertama kali telah mengakui sebagian tanggung jawab atas pertumpahan darah puluhan tahun, yang mengisyaratkan perubahan berarti dalam sikap mereka karena selama ini kelompok itu tetap mengklaim bahwa anggota-anggotanya menjadi korban penindasan pemerintah.
Pemerintah Kolombia dan FARC memulai dialog di Oslo, ibu kota Norwegia, pada 18 Oktober 2012 yang bertujuan mengakhiri konflik setengah abad yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Perundingan itu dilanjutkan sebulan kemudian di Havana, Kuba.
Tiga upaya sebelumnya untuk mengakhiri konflik itu telah gagal.
Babak perundingan terakhir yang diadakan pada 2002 gagal ketika pemerintah Kolombia menyimpulkan bahwa kelompok itu menyatukan diri lagi di sebuah zona demiliterisasi seluas Swiss yang mereka bentuk untuk membantu mencapai perjanjian perdamaian.
Kekerasan masih terus berlangsung meski upaya-upaya perdamaian dilakukan oleh kedua pihak.
FARC, kelompok gerilya kiri terbesar yang masih tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. Kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Daram tawarkan pendidikan gratis bagi pelajar korban banjir bandang di Agam
08 January 2026 15:09 WIB
Haraku Ramen dan The People's Cafe hadir di Sumbar, tawarkan promosi menarik
03 November 2025 17:57 WIB
Mezaf Sawahlunto tawarkan variasi busana budaya, padukan songket dan batik
29 October 2025 20:33 WIB
Legislator minta masyarakat waspada obat dan kosmetik tawarkan efek instan
16 October 2025 19:27 WIB
Tawarkan solusi penyelesaian masalah pertanahan di Sumsel, Menteri Nusron: "Litis Finiri Oportet"
10 October 2025 13:24 WIB
RUPTL Terbaru Berpotensi Tawarkan 91 Persen Green Jobs dari Sektor Pembangkit Listrik
02 June 2025 8:13 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018