Sudan Selatan Tuduh Gerilyawan Bantai 127 Pasien Rumah Sakit
Kamis, 23 Januari 2014 13:08 WIB
Juba, (Antara/Reuters) - Pemerintah Sudan Selatan menuduh tentara gerilyawan telah melakukan kejahatan kemanusiaan dengan membantai 127 pasien rumah sakit di kota Bor pada bulan lalu.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa dalam satu bulan terakhir, lebih dari ribuan orang telah terbunuh dalam bentrokan antara militer loyalis Presiden Salva Kiir dengan gerilyawan pendukung Riek Machar (mantan wakil presiden yang diberhentikan pada Juli tahun lalu).
Pemerintah menyatakan pembantaian oleh gerilyawan itu terjadi pada 19 Desember 2013 saat komandan tentara di Bor, Peter Gadet, bersumbah setia kepada Machar.
Bor, yang merupakan salah satu titik panas pertempuran antara kedua pihak, sebelumnya dikuasai oleh gerilyawan dan baru pada bulan lalu kembali direbut pemerintah dengan bantuan tentara Uganda.
"Mereka mendatangi rumah sakit dan dengan begitu saja membantai 127 pasien," kata juru bicara kepresidenan Ateny Wek Ateny.
Kubu gerilyawan membantah tuduhan tersebut dan justru berbalik menuduh pemerintah telah melakukan pembantaian masal di ibu kota Sudan Selatan, Juba.
"Tuduhan tersebut adalah kebohongan besar. Kami tidak membunuh kalangan sipil dan justru sebaliknya pemerintahlah yang telah membantai warga sendiri di Juba," kata juru bicara kelompok oposisi Lul Ruai Koang kepada Reuters.
Beberapa pejabat dari misi kemanusiaan PBB di negara tersebut sampai saat ini belum berkomentar.
Dimulai hanya dari perselisihan politik, bentrokan di Sudan Selatan kemudian meluas menjadi kekerasan etnis antara suku Dinka dari kubu presiden Kiir dengan Nuer (Machar).
Kiir dan Machar sama-sama menolak menandatangani gencatan senjata di Ethiopia terkait persoalan nasib 11 tahanan pemerintah dan keterlibatan tentara asing.
Gerilyawan bersikeras tahanan-tahanan tersebut harus dilepaskan sebelum kesepakatan ditandatangani sementara kubu pemerintah berkomitmen hanya akan melepaskan mereka setelah menjalani proses hukum.
Pertemuan puncak antara kepala negara kelompok Inter-Governmental Authority on Development (IGAD), yang menginisiasi perundingan gerilyawan dan pemerintah Sudan Selatan, ditunda pada Kamis.
Kantor kepresidenan Sudan Selatan menyatakan bahwa pertemuan IGAD yang akan membahas soal bentrokan di negara tersebut akan dilakukan bersamaan dengan pertemuan puncak Uni Afrika di Addis Ababa pada Januari. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemerintah bersama warga Pariaman alihkan arus sungai ancam rumah pasca-bencana
09 February 2026 18:32 WIB
Taklukan Korea Selatan 5-0, Timnas Futsal Indonesia pimpin Klasemen Grup A Piala Asia 2026
28 January 2026 10:31 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018