Dua Prajurit PBB Tewas Dalam Serangan di Darfur, Sudan
Senin, 30 Desember 2013 6:47 WIB
Amman, (Antara/AFP) - Orang-orang bersenjata membunuh dua prajurit penjaga perdamaian asal Yordania dan Senegal dalam serangan Minggu terhadap patroli PBB di Darfur, Sudan, kata Direktorat Keamanan Umum Yordania dalam sebuah pernyataan.
"Pagi ini, orang-orang bersenjata di Darfur Selatan melepaskan tembakan ke arah patroli PBB, menewaskan Mayor Talal Rjub (Yordania) dan seorang prajurit penjaga perdamaian Senegal," kata pernyataan itu.
"Pasukan penjaga perdamaian PBB memberi tahu kami mengenai serangan itu dan mengatakan, mereka masih menyelidikinya," tambah pernyataan itu tanpa penjelasan lebih lanjut.
Lebih dari 12 prajurit penjaga perdamaian PBB-Uni Afrika di Darfur tewas di kawasan itu dalam lima bulan terakhir.
Pada Januari, dua prajurit asal Yordania dibebaskan setelah ditahan lebih dari empat bulan di Darfur. Orang-orang itu hilang pada Agustus 2013 ketika mereka sedang berbelanja.
Misi PBB-Uni Afrika di Darfur (UNAMID), yang kini berjumlah 23.500 orang dan merupakan misi penjaga perdamaian terbesar di dunia, ditempatkan di Darfur, Sudan barat, sejak 2007 untuk berusaha mengakhiri permusuhan antara pemberontak dan pemerintah Sudan.
PBB mengatakan, lebih dari 300.000 orang tewas sejak konflik meletus di wilayah Darfur pada 2003, ketika pemberontak etnik minoritas mengangkat senjata melawan pemerintah yang didominasi orang Arab untuk menuntut pembagian lebih besar atas sumber-sumber daya dan kekuasaan. Pemerintah Khartoum menyebut jumlah kematian hanya 10.000.
Sebanyak 1,4 juta orang berada di kamp-kamp pengungsi di Darfur setelah meninggalkan rumah mereka selama konflik di wilayah Sudan barat itu.
Pemerintah Sudan menandatangani sebuah perjanjian perdamaian sponsoran Qatar dengan sebuah aliansi kelompok pemberontak pada 2011, namun kelompok-kelompok besar menolaknya.
Kelompok gerilya utama Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) menolak perjanjian itu, yang ditandatangani Sudan dan Gerakan Keadilan dan Kebebasan (LJM), sebuah kelompok pemberontak lain di Darfur.
JEM adalah satu dari sejumlah kelompok Darfur yang memberontak pada 2003 untuk menuntut otonomi lebih luas bagi wilayah barat yang gersang itu. Mereka kini dianggap sebagai kelompok pemberontak yang paling kuat di Darfur.
Perpecahan di kalangan pemberontak dan pertempuran yang terus berlangsung menjadi dua halangan utama bagi perundingan perdamaian yang berlangsung sejak 2003 di Chad, Nigeria dan Libya, sebelum pindah ke Doha.
Bentrokan-bentrokan antara pasukan Sudan dan gerilyawan masih terus berlangsung di Darfur meski misi penjaga perdamaian terbesar dunia UNAMID ditempatkan di wilayah Sudah barat itu. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pelda Yudi prajurit TNI yang gugur tersapu galodo Padang Panjang ditemukan, siang ini dimakamkan
02 December 2025 10:02 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018