Pertempuran Sengit Meletus di Sudan Selatan
Kamis, 26 Desember 2013 18:29 WIB
Juba, (Antara/AFP) - Pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan pemberontak terjadi pada Kamis di wilayah utara kaya minyak di Sudan Selatan, sementara Kenya dan Ethiopia, dua negara tetangganya, meningkatkan usaha-usaha untuk menjadi penengah.
Juru bicara tentara Philip Aguer mengatakan pasukan yang setia kepada Presiden Salva Kiir bertempur melawan pasukan pendukung mantan Wakil Presiden Riek Machar di dalam kota Malakal, ibu kota negara bagian Upper Nile.
Dia juga mengatakan tentara sedang mempersiapkan serangan terhadap Bentiu, kota utama di Negara Persatuan yang kaya minyak, menyusul aksi mereka merebut kembali Bor, ibu kota negara bagian lain yang jatuh ke tangan pemberontak selama hampir dua pekan bentrokan di negara termuda di dunia itu.
"Pertempuran pecah di Malakal. Pasukan kami berada di bagian barat Malakal dan pemberontak di bagian selatan. Kami akan pukul mereka keluar Malakal," kata jubir Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA) Aguer kepada kantor berita Prancis AFP.
"Pemberontak masih menguasai Bentiu tapi SPLA berencana mengambil alih kota itu segera," kata dia.
Kekerasan di Sudan Selatan, produsen minyak yang merdeka dari Sudan dua tahun lalu, merenggut nyawa ribuan warganya, menurut PBB.
Puluhan ribu warga sipil juga telah mengungsi ke pangkalan-pangakalan PBB di tengah-tengah gelombang kekerasan yang berlatar belakang pertentangan antara etnis Dinka asal Kiir melawan Nuer suku Machar.
Dewan Keamanan PBB pada Selasa memutuskan mengerahkan hampir 6.000 tentara dan polisi ke Sudan Selatan, menambah personel pasukan UNMISS menjadi 12.500 tentara dan 1.323 polisi sipil.
Di tengah-tengah laporan ditemukannya kuburan-kuburan massal dan kesaksian sejumlah orang terhadap pembunuhan dan eksekusi dan perkosaan, Sekjen PBB Ban Ki-moon telah berjanji mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan itu "harus menanggung akibatnya."
Presiden Kenya Uhuru Kenyatta dan Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn terbang ke Juba pada Kamis untuk berbicara dengan Presiden Kiir.
Ini merupakan langkah paling akhir sebagai penengah guna mengakhiri perang saudara yang mulai terjadi 15 Desember di Sudan Selatan. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Francesco Bagnaia akui persaingan MotoGP akan jadi lebih sengit di 2025
22 January 2025 10:10 WIB, 2025
Ganda putra Leo/Daniel atasi perlawanan sengit Astrup/Rasmussen di final
28 January 2024 20:27 WIB, 2024
Sama-sama berada di papan bawah, laga Dewa United kontra Barito Putera bakal sengit
14 March 2023 6:51 WIB, 2023
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018