Beirut, (Antara/Reuters) - Gerilyawan terkait Al Qaida pada Jumat (13/12) menculik sedikitnya 120 warga sipil Kurdi di desa dekat perbatasan Turki di Provinsi Aleppo. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan para pejuang Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) memasuki Ihras, 20 kilometer (12 mil) selatan kota perbatasan Azaz, dan menculik tawanan, termasuk setidaknya enam wanita, dan membawanya ke lokasi yang tidak diketahui . SOHR yang berbasis di Inggris, yang memiliki jaringan sumber di seluruh Suriah, mengutip sumber Arab dan Kurdi dan sekitar Ihras. Reuters tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut. Insiden itu adalah yang terbaru dalam serangkaian penculikan dan pembunuhan oleh ISIL bulan ini menargetkan warga Kurdi di Suriah utara, di mana gerilyawan Arab terutama Islam Sunni dan para pejuang Kurdi telah berulang kali bentrok dalam beberapa bulan terakhir. Kontrol atas Suriah timur laut, di mana Kurdi mendominasi, telah berkali-kali dikuasai antara mereka dan kelompok Islamis, yang sangat menentang rencana Kurdi untuk memisahkan diri. Observatory mengatakan ISIL telah menculik 51 warga sipil Kurdi dari kota-kota Manbij dan Jarablus timur laut dari Aleppo sejak awal Desember, termasuk delapan wanita dan dua anak-anak. ISIL juga telah menggusur 15 keluarga Kurdi terkait dengan Partai Uni Demokratik Kurdi (PYD) dari rumah mereka di Provinsi Idlib, menurut SOHR. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Navi Pillay mengatakan Jumat bahwa kedua pihak pemberontak dan pasukan pemerintah yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad telah meningkatkan penculikan baru-baru ini. "Hanya dalam beberapa bulan terakhir, kami telah melihat kenaikan sangat mengkhawatirkan dalam penculikan pembela hak asasi manusia, aktivis, jurnalis, tokoh agama dan lain-lain dengan kelompok oposisi bersenjata, serta terus berlanjutnya penahanan sewenang-wenang dan penghilangan paksa individu oleh pasukan pemerintah," kata Pillay. Jumlah warga Kurdi Suriah lebih dari dua juta dari total lebih dari 25 juta orang Kurdi di Suriah, Turki, Iran dan Irak. Warga Kurdi sering digambarkan sebagai kelompok etnis terbesar di dunia tanpa negara. Tertindas di bawah Presiden Bashar al-Assad dan mendiang ayahnya, sebelumnya, warga Kurdi Suriah menyaksikan perang saudara sebagai kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak otonomi - sebanyak kerabat etnis mereka di negara tetangga Irak yang berkonsolidasi pemerintahan sendiri selama gejolak di sana. (*/jno)