Padang Panjang (ANTARA) - Wakil Wali Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Allex Saputra mendorong sineas muda untuk terus berkarya dan menumbuhkan kreativitas dalam dunia perfilman, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Allex Saputra, menyebutkan ajang seperti Miffest tidak hanya menjadi tempat unjuk karya, tetapi juga wadah penting untuk memperkuat karakter, memperluas wawasan budaya, dan menumbuhkan ekosistem kreatif di daerah.

“Membangun kota bukan hanya dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan wawasan budaya dan daya cipta, Seni dan kreativitas memiliki peran besar dalam membentuk identitas serta kemajuan suatu daerah. Karena itu, saya mengajak sineas muda untuk berani berkreasi, bukan hanya membuat tontonan, tapi juga tuntunan dan renungan,” kata Allex pada pembukaan Minang Film Festival (Miffest) ke-9, Senin di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.

 Allex, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam menciptakan ruang yang mendorong inovasi dan pengembangan talenta muda.

“Kami melihat ISI sebagai kampus yang konsisten melahirkan insan kreatif dan berdaya saing. Pemerintah Kota siap berkolaborasi untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya di Padang Panjang,” tegas dia mengapresiasi tinggi atas konsistensi ISI Padang Panjang dalam melahirkan karya dan kreator muda berbakat,” sebut Allex.

Ia berharap Miffest terus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang ingin mengekspresikan diri melalui film.

“Dari Padang Panjang, kita bisa menyalakan cahaya kreativitas untuk Indonesia,” ujarnya optimis.

Festival tahunan yang digagas Program Studi Televisi dan Film ISI Padang Panjang ini telah menjadi salah satu ajang perfilman paling bergengsi di Sumatera Barat.

Dengan tema “Bersinema dengan Pelaku Budaya” Miffest tahun ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara insan film dan pegiat budaya dalam memperkuat narasi lokal dan identitas daerah.

Staf Ahli Gubernur Sumatera Barat Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan SDM, Nizam Ul Muluk, pada kesempatan tersebut mengatakan, festival ini bukan hanya ruang ekspresi mahasiswa, tetapi juga ajang pembelajaran dan kolaborasi bagi pelaku budaya lintas generasi.

“Miffest adalah momentum untuk memperkuat peran generasi muda dalam memajukan kebudayaan daerah. Pemerintah Provinsi, akan terus mendukung kegiatan positif seperti ini agar talenta muda Sumatera Barat semakin dikenal di tingkat nasional,” ujar dia, dan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Miffest ke-9.

Miffest berlangsung hingga Jumat (17/10) dengan beragam agenda, diantaranya pemutaran film, diskusi film, workshop, seminar perfilman, dan pameran arsip visual Minangkabau. Festival ini dihadiri ratusan mahasiswa, dosen, pegiat film, komunitas kreatif, serta undangan dari berbagai daerah di Sumatera Barat.

Rektor ISI Padangpanjang, Febri Yulika, menyampaikan rasa bangganya atas keberlanjutan Miffest yang telah digelar selama sembilan tahun berturut-turut.

Menurutnya, keberadaan festival ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa ISI mampu menghasilkan karya berkualitas yang diapresiasi publik.

“Tahun depan ISI akan menggelar Festival Kesenian Indonesia. Kami berharap Miffest ke-10 akan berlangsung lebih besar dan meriah. Mengangkat tema Bersinema dengan Pelaku Budaya, diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk lebih memahami dan berinteraksi dengan dunia film,” ungkap Febri Yulika.

Miffest tahun ini juga menghadirkan program “Cinema Talk” yang menampilkan sineas nasional seperti Riri Riza, Ifa Isfansyah, dan Andibachtiar Yusuf, yang berbagi pengalaman mengenai produksi film independen dan distribusi digital. Festival ini juga menggelar kompetisi film pendek nasional dengan 25 karya dari mahasiswa dan komunitas film seluruh Indonesia.

Salah satu peserta, Rani Mardika, mahasiswa ISI Padangpanjang, mengaku bangga bisa terlibat dalam festival tersebut.

“Lewat Miffest, kami belajar bukan hanya tentang teknis film, tapi juga bagaimana menulis cerita yang berpijak pada budaya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen Film ISI, Dr. M. Riza Fahmi, menilai Miffest merupakan ruang aktualisasi penting bagi mahasiswa.

“Film bukan sekadar karya seni, tapi juga refleksi sosial. Melalui festival ini, mahasiswa diajak peka terhadap lingkungan dan identitas budaya mereka,” jelas dia.

Pegiat film lokal, Desi Rahma, menyebut Miffest sebagai “laboratorium sosial” bagi anak muda kreatif. Menurutnya, setiap film yang lahir dari festival ini membawa semangat memperkenalkan budaya Minangkabau dengan cara yang lebih modern dan universal.

Miffest ke-9 juga memperkenalkan kategori baru, yakni “Film Dokumenter Budaya Terbaik” sebagai bentuk penghargaan terhadap karya yang mengangkat nilai tradisi dan kearifan lokal. Kategori ini diharapkan dapat memacu lahirnya dokumentasi sinematik yang memperkuat identitas Minangkabau di era digital.

Miffest ke-9 ini turut disemarak dengan hadirnya stand komunitas film, pameran fotografi sinema, dan pertunjukan musik tradisional yang menampilkan karya mahasiswa ISI dan pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan para pembuat film dan menikmati suasana kreatif khas kampus seni. (*)