Yerusalem, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu, hanya beberapa jam setelah Palestina mengancam memboikot perundingan perdamaian terkait pembangunan permukiman oleh Israel. Kerry juga akan mengunjungi lapangan Tel Aviv, tempat mantan Perdana Menteri Yitzhak Rabin ditembak mati 18 tahun lalu oleh ekstremis kanan Israel karena melakukan perundingan perdamaian dengan Palestina. "Tuan Rabin berani mengambil resiko untuk perdamaian karena perdamaian adalah hal penting untuk menjamin masa depan Israel dan stabilitas wilayah," kata Kerry. Beberapa jam sebelumnya, seorang pejabat senior Palestina menyatakan bahwa pihak yang diwakilinya tidak dapat melanjutkan perundingan karena Israel bersikeras melanjutkan rencana pembangunan pemukiman di atas tanah warga Palestina. "Perundingan Palestina dan Israel telah berhenti pada Selasa malam karena keinginan Israel untuk terus membangun pemukiman," kata pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut. Pada pekan lalu, Israel memngumumkan akan meneruskan pembangunan ribuan rumah, sebagian besar di antaranya akan dibangun di bagian timur Yerusalem. Persoalan tersebut diperkirakan menjadi topik perbicangan utama Kerry dengan Natanyahu di Yerusalem. Kepada para wartawan di lapangan Tel Aviv, Kerry mengirimkan pesan yang jelas kepada para pemimpin politik Israel untuk meneruskan perundingan damai "sebagaimana Perdana Menteri Rabin pernah melakukannya." Media masa lokal pada Selasa melaporkan bahwa para negosiator Israel menginginkan agar pagar pembatas yang dibangun sepanjang Tepi Barat ditetapkan sebagai wilayah perbatasan dengan negara Palestina. "Israel ingin agar perbatasan antara dua negara ditetapkan di sepanjang pagar pembatas, dan bukan garis yang ada sebelum Perang Enam Hari 1967 (saat Israel merebut sebagian wilayah Gaza, Tepi Barat, dan bagian timur Yerusalem) sebagaimana tuntutan Palestina," kata salah satu stasiun radio lokal. Israel mulai membangun "pagar keamanan" pada 2002 di tengah kebangkitan intifada kedua dan menyatakan bahwa pagar tersebut diperlukan sebagai bagian penting untuk melindungi warganya. Negara tersebut juga menyebut turunnya intensitas serangan di dalam Israel sebagai bukti kesuksesan pembangunan pagar. Sementara itu dari pihak Palestina, yang menyebut pagar itu sebagai "tembok apartheid", menyatakan bahwa 85 persen pembatas yang dibuat Israel berada di wilayah Tepi Barat. Sampai saat ini, pihak Israel masih menolak berkomentar mengenai jalannya perundingan dengan Palestina. (*/jno)