Pengawas Senjata Kimia OPCW Peroleh Hadiah Nobel Perdamaian
Sabtu, 12 Oktober 2013 9:52 WIB
Oslo, (Antara/AFP) - OPCW, satu badan kurang dikenal yang kini jadi sorotan akibat konflik Suriah, Jumat meraih Hadiah Nobel Perdamaian atas kerjanya memusnahkan senjata-senjata kimia.
Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) yang didukung PBB itu mendapat penghargaan "atas usaha-usaha ekstensifnya untuk memusnahkan senjata-senjata kimia," kata ketua Komite Nobel Thorbjoern Jagland ketika mengumumkan pilihan yang mengejutkan itu.
"Konflik-konflik di Suriah sekarang, dimana senjata-senjata kimia kembali digunakan, menggarisbawahi tentang perlunya meningkatkan usaha-usaha untuk memusnahkan senjata-senjata seperti itu," kata juri Norwegia itu dalam pernyataannya.
Pengawas senjata kimia itu tidak dipertimbangkan diantara para calon-calon untuk memperoleh penghargaan itu sampai sehari menjelang pengumuman itu.
Aktivis pendidikan Pakistan yang berusia belasan tahun Malala Yousafzai dan doktor Kongo Denis Mukwege termasuk di antara unggulan bagi penghargaan tahun ini.
Ini merupakan tahun kedua secara berturut-turut satu organisasi meraih penghargaan prestisius itu, hadiah tahun lalu diperolah Uni Eropa.
OPCW yang bermarkas di Den Haag, Belanda itu dibentuk tahun 1997 untuk melaksanakan Konvensi Senjata Kimia yang ditandatangani 13 Januari 1993.
Sampai operasi sekarang yang relatif tidak dikenal, OPCW mendadak metal menjadi sorotan dunia karena pekerjaannya mengawasi pemusnahan fasilitas-fasilitas dan senjata kimia Suriah.
Tugas ini akan rampung pertengahan tahun 2014 sesuai dengan ketentuan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Satu tim sekitar 30 ahli senjata OPCW dan logistik PBB dan personil keamanan berada di Suriah dan telah mulai menghancurkan fasilitas-fasilitas produksi senjata.
OPCW Selasa mengatakan pihaknya akan mengirim para pemeriksa gelombang krdua untuk membantu missi perlucutan senjata di negara yang porak poranda akibat perang itu.
Kelompok lembaga swadaya masyarakat Swedia The Rights Livelihood Foundtion yang kini menyerahkan satu penghargaan pakar senjata kimia Paul Walke, memuji keputusan juri Nobel sebagai satu "pilihan penting".
"Itu menunjukkan bahwa proses multilateral dan solusi-solusi teknis untuk membersihkan dunia dari senjata-senjata kimia," kata Ole van Uexkull, direktur yayasan itu , dalam satu pernyataan.
Sejak OPCW berdiri 16 tahun lalu, organisasi itu telah memusnahkan 57.000 ton senjata kimia, mayoritas mereka peninggalan Perang Dingin dikuasai AS dan Rusia.
Sampai sekarang, OPCW memiliki 189 anggota lebih dari 98 persen penduduk dunia, dengan Suriah akan menjadi anggota penuh konvensi itu Senin.
Israel dan Myanmar menandatangani tahun 1993 tetapi belum meratifikasinya, kata laman OPCW.
Empat negara-- Korea Utara, Angola, Mesir, Sudan Selatan --tidak menandatangani atau meratifikasinya.
OPCW juga memberikan bantuan dan perlindungan kepada para anggota yang diancam atau diserang senjata-senjata kimia. (*/wij)
Pewarta : 34
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018