Iran Bersikeras "Miliki Hak Mutlak" Lakukan Pengayaan Uranium
Selasa, 8 Oktober 2013 9:56 WIB
Teheran, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Senin, bersikeras jika negaranya memiliki "hak mutlak" untuk melakukan pengayaan uranium di wilayahnya, menurut kantor berita ISNA.
"Penguasaan teknologi nuklir sipil, termasuk pengayaan
uranium, di tanah Iran adalah hak mutlak Iran," kata Zarif pada
pertemuan di Teheran dengan Wakil Menteri Luar Negeri Swiss Yves Rossier yang tengah berkunjung.
"Peristiwa beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa pendekatan ancaman dan sanksi belum memastikan kepentingan dan tujuan dari pihak lain, dan kelanjutan dari pendekatan ini adalah pengulangan kesalahan masa lalu yang tidak bisa mencegah Iran menguasai teknologi nuklir sipil," tambahnya.
Negara-negara Barat dan Israel telah lama menuduh Iran berusaha untuk mengembangkan bom nuklir dengan kedok program nuklir sipil, tuduhan yang selalu dibantah tegas Teheran.
Iran dan enam kekuatan dunia - Inggris, China, Prancis, Jerman, Rusia, Amerika Serikat - dijadwalkan untuk melanjutkan perundingan di Jenewa pada 15 Oktober untuk mencoba menemukan solusi terhadap masalah nuklir Iran.
Perundingan itu akan menjadi pertemuan pertama antara Iran dan enam negara tersebut sejak pemilihan umum pada bulan Juni dengan pemenangnya Presiden Hassan Rouhani, yang telah menyerukan penyelesaian cepat masalah yang telah terhenti selama delapan tahun itu.
Pada pertemuan di Almaty tahun ini, enam negara itu mengusulkan agar Iran menangguhkan pengayaan uranium pada tingkat 20 persen yang menurut Iran diperlukan untuk reaktor penelitian keseharan, dan untuk menghentikan pengayaan di pabrik bawah tanah di Fordo .
Sebagai imbalannya mereka akan mengurangi beberapa sanksi terhadap perdagangan emas dan petrokimia.
Namun, Zarif mengatakan pada Minggu jika usulan itu adalah "sejarah masa lalu" dan bahwa kelompok itu "harus datang ke meja perundingan dengan pendekatan baru".
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry pada Senin mendesak Iran untuk datang dengan proposal baru.
"Kelompok enam mengajukan usulan di Almaty dan saya tidak percaya
jika Iran telah sepenuhnya menanggapi usulan tertentu. Jadi saya pikir kita sedang menunggu kepenuhan perbedaan pendekatan Iran sekarang," kata Kerry kepada wartawan di Indonesia setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.
"Jadi apa yang kita butuhkan adalah seperangkat proposal dari Iran yang sepenuhnya akan mengungkapkan bagaimana mereka akan menunjukkan kepada dunia bahwa program mereka bertujuan damai," tambahnya. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden FIGC bersikeras tak mau jadi "penggali kubur" sepak bola ditengah pandemi corona
20 April 2020 15:16 WIB, 2020
Ketua FIGC Gabriele Gravina bersikeras Liga Italia musim 2019/2020 akan dilanjutkan
13 April 2020 10:02 WIB, 2020
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018