Presiden Rwanda Kecam Sanksi AS Atas Tentara Anak
Sabtu, 5 Oktober 2013 6:35 WIB
Kigali, (Antara/AFP) - Presiden Rwanda Paul Kagame Jumat
marah mengecam keputusan Amerika Serikat karena memberlakukan sanksi-sanksi terhadap negaranya untuk dugaan mendukung pemberontak di Republik Demokratik Kongo yang merekrut tentara anak.
Kagame mengatakan keputusan itu hanya akan menguntungkan para pemberontak lain untuk meningkatkan sisa-sisa ekstrimis Hutu yang melakukan genosida di Rwanda pada 1994.
"Ini menguntungkan musuh-musuh negara kita yang berusaha untuk menghancurkan apa yang kita coba untuk bangun," kata Kagame dalam pidato kepada parlemen.
PBB menuduh Rwanda mendukung pemberontak M23 di negara tetangga timur DR Kongo, suatu tuduhan yang telah dibantah tegas.
Pada Kamis, Washington mengatakan pihaknya menyerukan Undang-undang Perlindungan Tentara Anak 2008 untuk menghentikan bantuan keuangan dan militer AS kepada Rwanda.
Tetapi Kagame mengatakan, sanksi-sanksi itu hanya "menguntungkan orang-orang yang melemparkan granat di sini, di Kigali, dan membunuh anak-anak kita", katanya mengacu pada serangan baru-baru di ibu kota yang dilakukan sampai pemilihan parlemen bulan lalu.
"Mereka tidak peduli tentang anak-anak kita," katanya, menghantam "para pembunuh yang tinggal di DRC (dan) di Afrika Selatan" - referensi untuk para ekstrimis Hutu di pengasingan terkait dengan genosida tahun 1994 serta lawan lainnya.
Kelompok pemberontak M23 didirikan oleh bekas pemberontak Tutsi yang dimasukkan ke dalam militer Kongo di bawah kesepakatan damai 2009, tetapi membalik senjata mereka pada mantan rekan-rekan mereka sendiri pada tahun 2012.
Pemerintah Kagame, juga didominasi oleh Tutsi, dituduh mendukung pemberontak sebagai bagian dari perang tanding melawan pemberontak Hutu di Kongo dan untuk mencari pengaruh di wilayah Kivu timur negara itu yang kaya mineral.
Kagame berulang kali membantah dukungan rahasia untuk M23, dan menggambarkan sanksi-sanksi itu sebagai "penghinaan".
"Saya tidak mengerti mengapa Rwanda diperlakukan ... dengan ketidakadilan seperti itu," katanya.
"Rwanda akan dihakimi dan bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan orang lain," tegasnya. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
16 tewas, puluhan cidera karena sambaran petir dalam dua hari di Rwanda
11 March 2018 8:44 WIB, 2018
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018