PM Kanada Desak Mesir Bebaskan Dua Warganya yang Mogok Makan
Selasa, 1 Oktober 2013 15:43 WIB
Ottawa, (Antara/AFP) - Perdana Menteri Kanada Stephen Harper, Senin mendesak pembebasan segera dua warga Kanada yang kini melakukan mogok makan setelah ditahan di Mesir selama enam pekan tanpa tuduhan-tuduhan.
Tetapi kedua pria itu bisa ditahan setidaknya 45 hari lagi, kata seorang keluarga dari salah seorang dari mereka yang ditahan itu, Senin.
John Greyson seorang produser dan profesor universitas sementara Tarek Loubani adalah seorang dokter dari Ontario.
Mereka ditahan pertengahan Agustus setelah berusaha memasuki Gaza, di mana Greyson berencana membuat film dokumenter dan Loubani berencana akan membantu melatih para dokter lokal. Mereka dikembalikan ke perbatasan Gaza dan kemudian ditahan setelah melakukan satu protes di Kairo.
Mereka mulai melakukan mogok makan pada 15 September, kata saudara perempuan Greyson, Cecilia.
"Tanpa ada tuduhan-tuduhan, Dr.Louban dan Tuan Greyson harus dibebaskan segera," kata kantor Perdana Menteri Kanada dalam satu surat elektronik kepada AFP.
Menteri Luar negeri Kanada John Baird juga mendesak sejawat Mesirnya pekan lalu untuk membebaskan kedua orang itu.
Tetapi para jaksa Mesir memperpanjang masa penahanan mereka selama 45 hari, kata Cecilia dalam satu pernyataan yang dikirim ke satu laman mendesak pembebasan mereka.
Sementara itu, dalam satu surat terbuka yang diselundupkan ke luar dari penjara dan disiarkan akhir pekan lalu , Loubani dan Greyson menyebut kondisi di penjara Tora Kairo "menyedihkan."
Kedua orang itu menyatakan "tidur berhimpitan di lantai dengan satu keran air berbau tanah dari sungai Nil.
Mereka mengatakan mereka hanya untuk transit pada malam hari melalui Mesir menuju perbatasan ke Rumah Sakit Al--Shifa di Gaza, twtapi setelah perbatasan Rafah ditutup, mereka memutuskan melakukan protes di Taman Ramses Kairo lima blok dari hotel mereka.
"Protes baru saja dimulai secara damai mereka tiba-tiba merasa pusing pusing akibat bau busuk gas air mata, satu helikopter berputar di dekat lokasi mereka berunjuk rasa, kata mereka dalam surat elektonik itu.
Tarek ", memotret mode dokter" untuk merawat seorang pria muda dengan luka tembak , sementara Greyson mulai memotret "pembunuhan" yang akan segera disusul.
"Orang yang cedera dan meninggal tidak pernah berhenti. Antara kami, kami melihat 50 mahasiswa, pekerja, karyawan, profesor, dari semua bidang, semua usia, tidak bersenjata. Kami kemudian menghitung mayat pada hari itu adalah 102 orang."
Mereka mengatakan mereka mulai kembali ke hotel mereka pada petang hari, tetapi tidak dapat menemukan satu jalan akibat ditutup polisi dan akhirnya kami minta bantuan pada petugas pos pemeriksaan.
"Kemudian kami ditahan, digeledah, dikurung , ditanya, dan diperiksa. Mereka juga dipukul, disiksa dilarang menerima telepon dan dituduh orang upahan."
Pihak berwenang Mesir juga menyita peralatan kamera mereka serta buku penunjuk jalan dan beberapa helikopter seukuran permainan anak-anak yang didesain untuk mengangkut obat-obatan,menuju rumah sakit itu. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Trump: Barang China akan dikenakan tarif masuk 10 persen mula Februari
23 January 2025 4:38 WIB, 2025
Kanada akan kirim 60 petugas damkar ke California atas permintaan AS
13 January 2025 13:05 WIB, 2025
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018