Menlu AS Hindari Kritik Terhadap Aksi Keras Sudan
Selasa, 1 Oktober 2013 9:01 WIB
Washington, (Antara/ AFP) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry bertemu dengan Menlu Sudan Ali Karti namun gagal untuk mengulangi keritik terhadap tindakan keras yang dilakukan terhadap demonstran.
Ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes lonjakan harga bensin dan solar yang mencapai lebih dari 60 persen dan mulai berlaku pada 23 September; kerusuhan terburuk dalam sejarah pemerintahan Presiden Omar al-Bashir selama 24 tahun.
Pihak berwenang mengatakan 34 orang tewas dalam aksi protes. Namun para aktivis dan kelompok hak asasi manusia internasional mengatakan sedikitnya 50 orang ditembak mati, kebanyakan terjadi di wilayah Khartoum.
"Total korban sulit ditentukan, namun bisa mencapai 200 orang," kata seorang diplomat asing yang enggan disebut namanya.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki mengecam apa yang disebut sebagai "penumpasan brutal" oleh Khartoum terhadap demonstran, dan menambahkan hal tersebut kejam dan tidak seimbang.
Namun, dalam pertemuan antara Karti dan Kerry di Departemen Luar Negeri pada Senin, tindakan keras tersebut "tidak menjadi topik", kata Psaki.
Menurut Psaki, Kedua orang tersebut membahas tentang pentingnya perdamaian antara Sudan dan Sudan Selatan dan kebutuhan untuk mengakhiri konflik di Darfur, Blue Nile dan Kordofan Selatan, serta kebutuhan terhadap akses kemanusiaan untuk melindungi warga sipil.
"Ini bukan pertemuan yang lama, mereka membahas berbagai isu," tambahnya.
Sementara itu, pembuatan visa Amerika Serikat untuk al-Bashir guna menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa di New York juga dibahas, kata Psaki tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Psaki, yang mengatakannya sebagai hal yang rahasia, menolak untuk mengkonfirmasi apakah AS telah menolak atau memberikan visa untuk Bashir, yang dicari oleh Pengadilan Pidana Internasional untuk kejahatan perang di Darfur.
Karti pada Jumat menuduh penolakan Amerika Serikat terhadap visa Bashir merupakan pelanggaran kewajiban sebagai tuan rumah PBB.
Dia mengecam Amerika Serikat untuk apa yang ia sebut sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip dan tujuan yang ditetapkan dalam Piagam PBB.
Bashir tidak muncul di podium PBB, dan digantikan oleh Karti, tetapi masih belum jelas apakah ketidakhadiran Bashir karena dia enggan datang atau karena visanya ditolak AS. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018