Pengamat dorong pemerintah perkuat sarana BAKTI Kominfo
Rabu, 5 Juni 2024 19:22 WIB
Ilustrasi seorang teknisi perempuan PT Telkomsel melakukan pemantauan pada blok tower BTS (Base Transciever Station), di gedung TCC Telkomsel, Gayungsari Surabaya. (Antara/BhaktiPundhowo)
Padang (ANTARA) - Pengamat telekomunikasi sekaligus dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung
Dr Ian Josef Matheus Edward mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memperkuat sarana dan prasarana Bakti Kominfo khususnya di daerah 3T.
"Jika mau mengedepankan kepentingan nasional di atas segalanya, harusnya Kominfo mengutamakan aset yang dimiliki oleh negara yang dibangun BAKTI Kominfo, dan operator telekomunikasi dalam negeri terlebih dahulu," kata Pengamat telekomunikasi sekaligus dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Dr Ian Josef Matheus Edward melalui keterangan tertulisnya di Padang, Rabu.
Hal itu ia sampaikan terkait adanya keluhan masyarakat di daerah 3T terkait BTS Kominfo yang dinilai belum optimal. Keluhan masyarakat tersebut disebabkan kurangnya layanan broadband yang baik.
"Seharusnya Kominfo melakukan evaluasi mendalam mengenai keberadaan BAKTI Kominfo dalam menyediakan infrastruktur di daerah 3T karena pembangunan BTS USO di 3.435 daerah 3T seluruhnya dilakukan oleh BAKTI Kominfo," saran dia.
Di satu sisi, ia menilai semua layanan disediakan BAKTI Kominfo di daerah 3T sudah sesuai dengan regulasi yang berlaku. Apa lagi saat ini, backhaul yang digunakan di daerah 3T berasal dari satelit multifungsi Satria yang dikelola oleh BAKTI Kominfo.
Selama ini, ujar dia, pemerintah membayar pembangunan infrastruktur telekomunikasi menggunakan dana USO dan APBN. Jika backhaul VSAT SATRIA ingin diganti dengan Starlink, hal itu merupakan hak prerogative Kominfo.
"Jika ingin mengalihkan backhaul menggunakan Starlink, Kominfo harus mengevaluasi mendalam mengenai keberadaan BAKTI," kata dia.
Termasuk mengevaluasi apakah Kominfo masih memerlukan SATRIA dan Palapa Ring untuk melayani daerah 3T. Sebab biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk menyediakan infrastruktur telekomunikasi tersebut sudah besar, ucap Ian.
Terkait kerja sama antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan Starlink yang diperuntukkan bagi Puskesmas, ia menilai seharusnya Kominfo dan Kemenkes mengutamakan serta memanfaatkan aset yang dimiliki negara yang dikelola BAKTI Kominfo.
Jika kapasitas BAKTI Kominfo tak tersedia, Kominfo dan Kemenkes dapat memanfaatkan utilisasi yang dimiliki operator telekomunikasi dalam negeri. Dengan menggunakan aset BAKTI Kominfo atau operator telekomunikasi dalam negeri, objektif pemerintah untuk mewujudkan keamanan data dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dapat tercapai.
Dr Ian Josef Matheus Edward mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memperkuat sarana dan prasarana Bakti Kominfo khususnya di daerah 3T.
"Jika mau mengedepankan kepentingan nasional di atas segalanya, harusnya Kominfo mengutamakan aset yang dimiliki oleh negara yang dibangun BAKTI Kominfo, dan operator telekomunikasi dalam negeri terlebih dahulu," kata Pengamat telekomunikasi sekaligus dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Dr Ian Josef Matheus Edward melalui keterangan tertulisnya di Padang, Rabu.
Hal itu ia sampaikan terkait adanya keluhan masyarakat di daerah 3T terkait BTS Kominfo yang dinilai belum optimal. Keluhan masyarakat tersebut disebabkan kurangnya layanan broadband yang baik.
"Seharusnya Kominfo melakukan evaluasi mendalam mengenai keberadaan BAKTI Kominfo dalam menyediakan infrastruktur di daerah 3T karena pembangunan BTS USO di 3.435 daerah 3T seluruhnya dilakukan oleh BAKTI Kominfo," saran dia.
Di satu sisi, ia menilai semua layanan disediakan BAKTI Kominfo di daerah 3T sudah sesuai dengan regulasi yang berlaku. Apa lagi saat ini, backhaul yang digunakan di daerah 3T berasal dari satelit multifungsi Satria yang dikelola oleh BAKTI Kominfo.
Selama ini, ujar dia, pemerintah membayar pembangunan infrastruktur telekomunikasi menggunakan dana USO dan APBN. Jika backhaul VSAT SATRIA ingin diganti dengan Starlink, hal itu merupakan hak prerogative Kominfo.
"Jika ingin mengalihkan backhaul menggunakan Starlink, Kominfo harus mengevaluasi mendalam mengenai keberadaan BAKTI," kata dia.
Termasuk mengevaluasi apakah Kominfo masih memerlukan SATRIA dan Palapa Ring untuk melayani daerah 3T. Sebab biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk menyediakan infrastruktur telekomunikasi tersebut sudah besar, ucap Ian.
Terkait kerja sama antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan Starlink yang diperuntukkan bagi Puskesmas, ia menilai seharusnya Kominfo dan Kemenkes mengutamakan serta memanfaatkan aset yang dimiliki negara yang dikelola BAKTI Kominfo.
Jika kapasitas BAKTI Kominfo tak tersedia, Kominfo dan Kemenkes dapat memanfaatkan utilisasi yang dimiliki operator telekomunikasi dalam negeri. Dengan menggunakan aset BAKTI Kominfo atau operator telekomunikasi dalam negeri, objektif pemerintah untuk mewujudkan keamanan data dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dapat tercapai.
Pewarta : Siaran Pers
Editor : Muhammad Zulfikar
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Hari Otonomi Daerah, Padang Panjang perkuat komitmen pelayanan dan transparansi
27 April 2026 14:20 WIB
Tiga daerah di Sumbar raih Penghargaan Nasional, Gubernur Mahyeldi: Bukti kerja nyata berdampak
26 April 2026 12:14 WIB
Sapi peternak asal Agam diproyeksikan jadi sapi kurban Presiden untuk daerah bencana
24 April 2026 18:25 WIB
Sekdaprov Sumbar Tekankan Sinkronisasi Lintas Daerah untuk Perencanaan Infrastruktur 2027
22 April 2026 7:50 WIB