Kunduz, Afghanistan, (Antara/AFP) - Gerilyawan Taliban dengan mengendarai sepeda motor menembak mati seorang pejabat tinggi panitia pemilihan umum di Afghanistan utara pada Rabu, menimbulkan kekhawatiran pemilihan presiden pada April mendatang dilanda kekerasan. Amanullah Aman, kepala Komisi Pemilihan Independen (IEC) di Provinsi Kunduz, tewas akibat ditembak dua pria bersenjata di dekat rumahnya di kota Kunduz ketika berangkat ke tempat kerjanya. Ia adalah pejabat komisi pemilihan pertama dibunuh sejak pencalonan kandidat dibuka Senin. Semua kandidat dalam pemilu untuk menggantikan Presiden Hamid Karzai harus mengumumkan pencalonannya pada 6 Oktober. "Aman ditebak mati Rabu pagi di depan rumahnya ketika akan berangkat ke kantornya," kata juru bicara Provinsi Kunduz Enayatullah Khaliq kepada AFP. "Dua pria yang mengendarai sepeda-sepeda motor menembaki mobilnya dan melukainya, ia kemudian meninggal di rumah sakit." Wakil kepala kepolisian Ebadullah Talwar mengatakan bahwa Aman dibunuh setelah pergi berbelanja dan tidak didampingi para pengawalnya. Talwar menambahkan lima orang telah ditahan tetapi tidak merinci lebih jauh. Taliban, yang sering mengincer para pejabat pemerintah, mengeluarkan satu pernyataan singkat di laman mereka mengklaim bertanggung jawab bagi serangan itu. Bulan lalu pemimpin Taliban Mullah Omar menyebut pemilu itu "Membuang waktu", tetapi sejauh ini tidak mengeluarkan ancaman untuk meningkatkan serangan-serangan yang ditujukan pada persiapan-persiapan bagi pemungutan suara pada 5 April itu. "Kami akan memboikot pemilu April nanti. Kami tidak mengatakan kami akan menyerangnya, tetapi para komandan di lapangan akan melakukannya," kata seorang anggota Taliban, yang menuduh Karzai sebagai seorang boneka Amerika Serikat, kepada AFP baru-baru ini. Kunduz, yang berbatasan dengan Tajikistan, adalah daerah Afghanistan utara yang lebih tenang, tetapi masih menjadi pusat kegiatan perlawanan kelompok Islam itu. Provinsi itu juga satu rute penting bagi perdagangan narkoba dan terdapat kelompok suku berseteru dan milisi bersenjata. Keberhasilan pemilihan presiden tahun depan, dianggap sebagai ujian penting usaha-usaha militer internasional dan bantuan sejak pemerintah Taliban jatuh tahun 2001. Karzai, Selasa mengulangi keputusannya untuk mengawasi pemungutan suara aman dan dapat dipercaya, yang akan merupakan peralihan kekuasaan yang demokratis pertama di Afghanistan. "Satu pemilu yang baik saat ini akan merupakan satu hal yang baik bagi reputasi baik saya," katanya. "Saya akan melibatkan diri sampai para kandidat mendaftar... dan saya hanya akan melakukan keterlibatan lagi pada hari pencoblosan ketika saya memberikan suara saya pada kandidat unggulan saya. "Saya akan tetap netral dalam semua kegiatan pemilihan, tetapi akan membantu keamanan dan akan mencegah pihak asing ikut campur tangan." Karzai mengatakan mantan panglima perang Abdul Rasul Sayyaf, peringkat kedua dalam pemilu tahun 2009 Abdullah Abdulah dan mantan menteri keuangan Ashraf Ghani aalah para kandidat yang kuat. Perhatian kini juga dipusatkan pada Menlu Zalmai Rassoul sebagai kandidat teknokrat kuat dari kelompok Karzai. Pemilu itu bertepatan dengan penarikan 87.000 personil pasukan tempur NATO pada akhir tahun 2014 sementara ratusan dan polisi Afghanistan mengambil alih tugas memerangi gerilyawan Taliban. (*/jno)