Wahington, (ANTARA/AFP) - Korea Utara menguji motor untuk memperbaiki peluru kendali jarak jauhnya setelah peluncuran gagal pada April, kata kelompok pemikir Amerika Serikat pada Senin setelah membahas gambar baru satelit. Sejak kegagalan memalukan pada April, pemerintah komunis itu agaknya telah melakukan setidak-tidaknya dua uji motor besar, yang diperlukan roket dan dilakukan di tempat peluncuran, kata Institut AS-Korea di Universitas Johns Hopkins. Institut itu meneliti gambar-gambar kemersial dari stasiun peluncuran satelit Sohae antara April dan September. Uji-uji coba bahan bakar seperti itu akan meningkatkan pengembangan mesin-mesin bagi Unha3, roket yang Korea Utara gagal dalam peluncurannya April lalu, atau apa yang agaknya satu rudal jarak lebih jauh baru yang diikut sertakan dalam satu parade militer dalam bulan yang saman. Beberapa pengamat yakin bahwa satu roket Korut, jika berhasil dikembangkan, dapat menghantam Amerika Serikat. Nick Hansen, seorng pakar penganalisa perbandingan, mengatakan Korut mungkin meningkatkan aksi setelah pemilu-pemilu di Amerika Serikat dan Korea Selatan, dua musuh utama pemerintah Pyongyang. "Setelah pemilihan presiden-presiden AS dan Korsel, Pyongyang mungkin akan memasuki satu babak baru kegiatan-kegiatan dalam pertengahan pertama tahun 2013, termasuk uji-uji coba roket dan nuklir yang akan membantu pengembangan lebih jauh penangkal nuklirnya," kataanya di blog institut itu 38 North. Menteri Pertahanan Korsel Kim Kwan-Kin, pekan lalu mengatakan Korut telah merampungkan persiapan-persiapan bagi satu uji coba nuklirnya dan peluncuran rudal. Akan tetapi 38 North dalam September memberitakan satu penghentian kerja di satu tempat peluncuran baru bagi rudal-rudal antar-benua--- mungkin akibat hujan-- proyek itu baru dapat diselesaikan dalam dua tahun. Korut tetap meluncurkan roket April, mengatakan tindakan itu adalah untuk menempatkan satu satelit dalam orbit, tetapi hancur hanya dua sampai tiga menit setelah peluncuran itu. Uji coba itu menyebabkan terhentinya usaha terbaru internasional untuk berunding dengan negara yang dikucilkan itu, dengan AS menghetikan rencana mengirim batuan pangan yang sangat dibutuhkan. (*/jno)