PBNU Berharap Indonesia Jadi Penengah Konflik Suriah
Sabtu, 7 September 2013 19:22 WIB
Said Aqil Siroj
Wonosobo, Jateng, (Antara) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berharap pemerintah Indonesia berperan aktif sebagai penengah dalam konflik di Suriah dengan mengedepankan penyelesaian damai.
"Kami mohon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berperan menjadi penengah," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj disela-sela rapat pleno PBNU di Kampus Universitas Sains Al Quran, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu.
Menurut Said Aqil, pengaruh Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia harus digunakan untuk mencegah tragedi kemanusiaan yang lebih hebat di Suriah.
Indonesia, lanjutnya, harus bisa menyakinkan dan mencegah operasi militer Amerika Serikat dan sekutunya di Suriah serta mengajak pihak-pihak bertikai di negara itu menghentikan kekerasan dan menyelesaian persoalan melalui dialog.
"Masih ada waktu untuk mencegah terjadinya tragedi kemanusiaan yang lebih hebat di Suriah," kata Said Aqil.
Sementara itu wartawan Antara yang mengikuti kunjungan Presiden Yudhoyono ke Saint Petersburg, Rusia, melaporkan pada Jumat waktu setempat, disela-sela kegiatan KTT G20, Presiden bertemu dengan Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan menyampaikan pandangannya mengenai Suriah dan juga membahas sejumlah isu lainnya.
Saat memberikan keterangan pers, Presiden menyatakan pemerintah Indonesia berharap penyelesian masalah Suriah tidak menggunakan opsi militer tanpa mandat PBB dan mengedepankan upaya-upaya gencatan senjata bagi semua pihak.
Presiden mengatakan ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk membantu penyelesaian masalah di Suriah. Pertama, kekerasan dan pertumpahan darah harus dihentikan.
Kedua, dengan bisa diakhirinya kekerasan, maka bantuan kemanusiaan yang sangat diperlukan, yang saat ini tidak lancar dan terhenti disana-sini, bisa dilaksanakan dengan baik lagi.
"Ketiga, penyelesaiannya mestinya bukan penyelesaian militer tapi penyelesian politik, yang diperlukan adalah solusi politik," kata Presiden.
Presiden Yudhoyono mengatakan hal yang harus dilakukan adalah penghentian tembak menembak dan kemudian dilakukan sejumlah langkah untuk memastikan adanya proses penyelesaian masalah di Suriah tanpa melibatkan kekuatan militer.
Bersamaan dengan itu, kata Presiden, segera dilakukan pertemuan tingkat tinggi yang disponsori dan dituanrumahi oleh PBB untuk merumuskan kerangka penyelesaian.
"Apa yang dilakukan a, b,c d,e,f manakala Insya Allah gencatan senjata bisa dijalankan, lantas kerangka penyelesaian itu mendapatkan kesepakatan pada tingkat Dewan Keamanan PBB dijalankan bukan tidak mungkin terbuka peluang yang lebih besar lagi yang akhirnya masuk ke dalam proses politik," tegasnya. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kunjungan wisatawan menurun, pelaku wisata Ngarai Sianok berharap dukungan pemerintah
05 January 2026 14:34 WIB
Wako Fadly Amran berharap DPP LAKAM jadi mitra pemerintah jaga dan lestarikan adat Minangkabau
27 August 2025 12:55 WIB
HUT Bhayangkara ke-79, Wako Fadly Amran berharap sinergi Pemkot-Polri makin solid
01 July 2025 13:21 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018