Damaskus, (Antara/AFP/Reuters) - Presiden Bashar al-Assad telah mengganti Gubernur Provinsi Hama, Anas Abdel Razzaq al-Naem, yang meninggal dalam satu ledakan mobil, kantor berita resmi Suriah SANA melaporkan Selasa. Ghassan Omar Khalaf diangkat menjadi gubernur Provinsi Hama, di bagian tengah Suriah, yang beberapa bagiannya dikuasai oleh para gerilyawan, kata SANA tanpa memberikan rincian. Pandahulunya Anas Abdel Razzaq al-Naem meninggal pada 25 Agustus dalam satu ledakan yang diklaim dilakukan fron Al-Nusra di kota Hama. Ia telah diangkat empat bulan setelah pemberontakan pecah pada Maret 2011 menentang rezim Bashar, menggantikan seorang gubernur yang dipecat menyusul protes-protes massal di Hama yang kemudian ditumpas pasukan pemerintah. Fron Al-Nusra mengaku melakukan serangan bom mobil itu, dengan menyatakan aksi tersebut sebagai balasan atas dugaan serangan senjata kimia pada 21 Agustus dekat Damaskus yang merenggut ratusan jiwa. Ayah Bashar dan pendahulunya Hafez al-Assad menumpas secara brutal pergolakan Ikhwanul Muslimin di kota Hama pada 1982, menewaskan antara 10.000 dan 40.000 orang. Pemberontakan di Suriah telah berubah menjadi perang saudara yang menewaskan lebih dari 100.000 orang dan menimbulkan pengungsian besar-besaran itu. Hal itu menimbulkan beban yang sulit ditanggung oleh negara-negara tuan rumah yang menampung para pengungsi. Jumlah pengungsi Suriah melampaui angka dua juta orang, kata badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi UNHCR pada Selasa, dengan memperingatkan bahwa dunia menghadapi ancaman terbesar terhadap perdamaian sejak perang Vietnam. Dalam pernyataannya di Jenewa, UNHCR mengatakan terjadi kenaikan jumlah pengungsi hampir sepuluh kali lipat dalam 12 bulan belakangan. Pengungsi melintasi perbatasan Suriah menuju Turki, Irak, Yordania dan Libanon. Tiap hari rata-rata hampir 5.000 pria, wanita dan anak-anak mengungsi ke negara tetangga Suriah itu. Jumlah mereka yang tinggal di luar negeri di atas dua juta orang. Jumlah itu merupakan sekitar 10 persen dari populasi Suriah, kata UNHCR. Sekitar 4,25 juta orang diperkirakan telah mencari tempat-tempat yang relatif aman di dalam negeri. Angka tersebut hampir mendekati sepertiga dari seluruh orang Suriah yang mengungsi ke luar negeri. Jika dibandingkan dengan angka pengungsi Afghanistan pada saat puncak kemalut di negara itu dua dasawarsa lalu, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Antonio Guterres mengatakan,"Suriah telah menjadi tragedi besar abad ini -- bencana kemanusiaan yang tak ada bandingan dalam sejarah mutakhir." Berbicara tentang percepatan dalam krisis itu, dia berkata,"Apa yang menggemparkan ialah satu juta pertama pengungsi meninggalkan Suriah dalam dua tahun. Satu juta kedua pengi dalam enam bulan terakhir." Dalam jumpa pers, Guterres mencatat bahwa sebanyak enam juta orang mencari tempat perlindungan di dalam negeri akibat perang. "Pada saat khusus ini, inilah jumlah tertinggi orang mencari perlindungan di dunia. Dan jika orang melihat pada puncak krisis di Afghanistan, kita punya jumlah orang yang mencari perlindungan yang sangat serupa." Guterres, mantan perdana menteri Portugis, mengatakan krisis yang terjadi di Suriah telah mengancam perdamaian dan keamanan dunia. "Saya yakin, tidak lebih kecil daripada apa yang kita telah saksikan dalam krisis-krisis lain yang kita catat sejak perang Vietnam. (*/sun)