Ketua IMF Peringatkan Risiko Terhadap Ekonomi Ketika Stimulus Berakhir
Sabtu, 24 Agustus 2013 7:39 WIB
Washington, (Antara/AFP) - Ketua Dana Moneter Internasional Christine Lagarde pada Jumat mengatakan bahwa stimulus bank sentral masih dibutuhkan untuk perekonomian dunia, dan memperingatkan risiko yang tidak diketahui ketika itu ditarik kembali.
"Hari itu akan datang ketika periode kebijakan moneter sangat longgar ini ... harus berakhir," katanya dalam pidato pada sebuah pertemuan global para bankir bank sentral yang diselenggarakan oleh Federal Reserve AS di Jackson Hole, Wyoming.
"Kita perlu merencanakan untuk hari itu, terutama karena kita tidak tahu persis kapan itu datang," kata Lagarde, direktur pelaksana IMF, menurut teks yang sudah disiapkan.
"Seperti halnya dengan masuk, keluar akan membawa kita ke wilayah yang belum dipetakan."
Berbicara ketika Fed berencana untuk memperlambat program pembelian obligasinya 85 miliar dolar AS per bulan yang telah mengguncang pasar khususnya negara-negara berkembang, Lagarde mengatakan pendekatan "kebijakan moneter tidak konvensional" (UMP) tetap penting.
"Seperti saya katakan di depan: Saya tidak menyarankan terburu-buru untuk keluar. UMP masih dibutuhkan di semua tempat itu sedang digunakan, meskipun lebih lama untuk beberapa daripada untuk lainnya."
Dia mengatakan secara khusus bahwa Eropa dan Jepang masih memiliki banyak keuntungan dari program tersebut, yang sebagian besar bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dengan menekan tingkat suku bunga lebih rendah.
Tetapi dia mengatakan IMF dan pembuat kebijakan harus memikirkan konsekuensi guncangan dalam program uang longgar dan operasi tidak konvensional lainnya, seperti memberikan panduan rinci tentang apa yang bank sentral pikirkan tentang masa depan.
"Itu termasuk implikasi ekonomi global dan stabilitas keuangan: seluruh sistem, bukan hanya satu bagian dari itu".
Lagarde mencatat bahwa prospek Fed dan bank sentral lainnya memperlambat program stimulus sudah mengirimkan harga obligasi jatuh, dan mengakui gejolak yang diakibatkan: pasar-pasar negara berkembang telah melihat percepatan dalam arus keluar modal dan tekanan turun tajam pada mata uang mereka.
"Kita semua tahu bahwa situasi bisa berubah dengan cepat -- seperti yang telah kita lihat dalam beberapa hari terakhir di beberapa negara emerging market. Risiko ini memerlukan
pemantauan dan penilaian ulang konstan," katanya.
"Namun demikian, masalah yang sama pentingnya adalah apa yang harus dilakukan jika menghadapi ketidakstabilan keuangan yang baru. Hal ini memunculkan risiko serius bagi negara-negara non-UMP. "
Negara-negara tersebut harus "penuh semangat" mengejar kebijakan yang akan memperkuat ekonomi mereka untuk jangka menengah.
Bank-bank sentral mereka perlu secara umum mempertahankan kurs nilai tukar fleksibel, juga, tetapi dia mengatakan bahwa "beberapa intervensi pasar" berguna untuk mengurangi tekanan ekstrim. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Direktur IMF: Ekonomi Indonesia jauh di atas rata-rata pertumbuhan dunia
20 May 2023 19:36 WIB, 2023
Perekonomian Tiongkok dibuka, IMF naikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global jadi 2,9 persen
31 January 2023 10:57 WIB, 2023
Inflasi di atas target, IMF desak bank-bank sentral Asia perketat kebijakan moneter
14 October 2022 8:50 WIB, 2022
Dolar lebih kuat, Ketua IMF: Negara-negara dengan tingkat utang yang tinggi kena pukulan 3 kali
14 October 2022 7:52 WIB, 2022
Terburuk kedua dalam 40 tahun terakhir, China tak mau disalahkan IMF soal rendahnya pertumbuhan ekonomi
13 October 2022 6:18 WIB, 2022
Pemerintah mulai menghitung dan menyiapkan skenario terburuk hadapi ancaman resesi global 2023
12 October 2022 12:43 WIB, 2022
IMF turunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2023 jadi 2,7 persen
12 October 2022 6:52 WIB, 2022
Dolar AS menguat tipis saat pedagang cemas menunggu laporan inflasi utama
12 October 2022 6:22 WIB, 2022
28 negara antre pertolongan IMF, Presiden serukan optimisme jaga perekonomian negara
11 October 2022 12:46 WIB, 2022