Jakarta, (Antara) - Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono mengatakan target penerimaan bea dan cukai yang ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014 sebesar Rp168,2 triliun sulit dicapai. "Target penerimaan bea dan cukai sebesar Rp168,2 triliun yang ditetapkan dalam RAPBN 2014 itu sangat berat untuk dicapai," kata Agung dalam konferensi pers tentang "drop box" Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di Jakarta, Senin. Walaupun demikian, dia mengatakan pihaknya akan tetap berupaya mencapai target yang telah ditetapkan tersebut. "Tentu ini makin berat, dari target Rp153 triliun menjadi Rp168 triliun, tetapi karena itu sudah perintah, saya menjawab Insya Allah tercapai," ujarnya. Agung mengatakan bahwa tantangan dalam penerimaan bea dan cukai terkait erat dengan kondisi ekonomi global, dimana pelemahan ekonomi global akan berdampak pada semua aspek bea dan cukai. . "Jadi, kalau variabel ekonomi melemah, mungkin ekspornya melemah, impornya melemah. Berarti bea masuk turun, dan bea keluarnya juga turun. Namun, kami masih berusaha untuk mencapai target," katanya. Sehubungan dengan usaha ekstra yang akan dilakukan untuk mencapai target itu, Agung mengatakan Dirjen Bea dan Cukai akan mengatasi adanya potensi kebocoran, seperti penyelundupan. Selain itu, kata dia, pihaknya pun akan berupaya untuk memperketat pengawasan di tempat-tempat yang selama ini diduga menjadi pintu masuk penyelundup. Tidak hanya itu, lanjutnya, penajaman proses penelitian dan klasifikasi kepabeanan juga akan dilakukan. "Sehingga yang diberitahukan di bea dan cukai klasifikasinya benar. Akhirnya tarif bea masuknya juga benar, nilai pabeannya juga benar. Itu dapat membuat penerimaan kita lebih baik," ujar Agung. "Sejauh ini, bea keluar kita masih di bawah 50 persen. Ekspor kita juga terhambat, harga turun, tentu bea keluarnya juga menurun," ungkapnya. Sementara itu, untuk kenaikan tarif cukai, seperti cukai hasil tembakau (rokok), hal tersebut tidak termasuk ke dalam wewenang Dirjen Bea dan Cukai, kata dia. Kemudian, terkait penerimaan bea keluar, ia mengatakan Dirjen Bea dan Cukai masih mengandalkan dari minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dengan persentase hingga 91,7 persen. Agung menjelaskan, tren harga internasional CPO sampai sekarang belum menunjukkan perbaikan. "CPO itu sudah harganya turun, ekspornya terhambat maka penerimaan jadi turun. Tentunya bea keluarnya akan turun," kata Agung. Sebelumnya, pemerintah menetapkan target pendapatan negara dari perpajakan dalam RAPBN 2014 sebesar Rp1.310,2 triliun. Penerimaan negara dari perpajakan itu, terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp1.142 triliun serta penerimaan bea dan cukai sebesar Rp168,2 triliun. (*/jno)