Beirut, (ANTARA/Xinhua-OANA) - Menteri Luar Negeri Mesir Mohammed Kamel Amr, yang sedang berkunjung, Selasa (6/11), mengatakan "Mesir mendukung rakyat Lebanon dan pilihan mereka", demikian laporan National News Agency (NNA). "Penyelesaian krisis harus datang dari rakyat Lebanon sendiri," kata Amr setelah pertemuannya dengan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri. Krisis politik di Lebanon bertambah parah setelah terbunuhnya Kepala Dinas Intelijen Pasukan Keamanan Dalam Negeri May.Jen Wissal El Hassan di Ashrafieh, Beirut, pada 19 Oktober. Pada Selasa pagi, sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Rabu, Amr mengatakan, "Pembetukan pemerintah baru di Lebanon adalah hak dan urusan rakyat Lebanon." Amr tiba di Beirut, Selasa, untuk kunjungan dua hari guna bertemu dengan para pejabat senior Lebanon dan menegaskan dukungan negerinya bagi dilanjutkannya dialog nasional di kalangan musuh politik di Lebanon, kata NNA. Sementara itu, Partai Sosialis Progresif di Lebanon mengatakan di dalam satu pernyataan Amr menelepon anggota parlemen dan ketua partai tersebut Walid Jumblat serta membahas perkembangan paling akhir di negeri itu. Jumblat menyampaikan kembali penolakannya terhadap kevamukam politik di Lebanon dan menuntut pembentukan pemerintah persatuan nasional, kata pernyataan tersebut. Pada Senin (5/11), Presiden Lebanon Michel Suleiman menekankan dialog dan pidato politik yang membangun adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pemerintah, demikian laporan NNA. Suleiman merujuk kepada oposisi, yang menyerukan pembubaran kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Najib Mikati dan upaya presiden itu untuk mengubahnya melalui pembahasan masalah di Meja Dialog Nasional. Selain menghadapi kemelut di dalam negerinya, Lebanon juga menerima beban pengungsi Suriah. Pada Sabtu (3/11), Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) menyatakan dalam laporan terakhirnya bahwa jumlah pengungsi Suriah di Lebanon telah mencapai 106.280 orang. (*/sun)