Afghanistan Peringatkan Pakistan Setelah Bentrokan Meletus Lagi
Selasa, 7 Mei 2013 5:51 WIB
Kabul, (Antara/Reuters) - Afghanistan, Senin, memperingatkan Pakistan negara itu akan memikul tanggung jawab jika bentrokan meletus lagi di perbatasan sengketa mereka, beberapa jam setelah baku-tembak terjadi lagi antara kedua negara bertetangga tersebut.
Bentrokan itu adalah petunjuk paling akhir mengenai betapa merosotnya hubungan antara kedua sekutu penting AS tersebut, dan terjadi beberapa hari sebelum pemilihan umum Pakistan.
Dalam kasus "terjadinya serangan lebih lanjut tanpa provokasi oleh pasukan Pakistan, maka Islamabad akan memikul tanggung jawab atas konsekuensi yang akan muncul", kata Kementerian Luar Negeri Afghanistan dalam pernyataan paling keras mengenai konflik itu.
Tidak jelas apakah ada korban jiwa dalam bentrokan pada Senin, yang memicu protes besar di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, dan menarik ribuan pria yang meneriakkan "Mati lah Pakistan".
Pakistan dipandang penting dalam mewujudkan kestabilan bagi Afghanistan saat pasukan Barat bersiap mundur paling lambat akhir tahun ini.
Amerika Serikat dan negara lain yang terlibat di Afghanistan telah berusaha mendorong kerja sama antara kedua negara bertetangga di Asia tersebut, yang memiliki sejarah saling tidak percaya.
Para pejabat Afghanistan mengatakan bentrokan pada Senin meletus, setelah tentara Pakistan berusaha memperbaiki satu gerbang perbatasan, di Kabupaten Gosht, Provinsi Nangarhar, Afghanistan, demikian laporan Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin malam. Di sana pekan lalu, seorang polisi perbatasan Afghanistan tewas dalam baku-tembak.
"Bentorkan pagi ini meletus setelah pihak Pakistan terus memperbaiki gerbang itu, yang rusak dalam pertempuran sebelumnya," kata Ahmad Zia Abdulzai, Juru Bicara bagi Gubernur Nangarhar.
Seorang pejabat Pakistan, yang tak ingin disebutkan jatidirinya, mengatakan tentara Afghanistan memulai bentrokan tersebut. Tapi Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Sediq Sediqqi balik menuduh Pakistan.
"Pembangunan pos terdepan atau gerbang di tanah Afghanistan tidak sah dan kami akan melakukan apa pun juga yang dapat kami lakukan untuk menghentikannya," kata Sediqqi.
Afghanistan menyatakan gerbang tersebut, yang berdampingan dengan pos militer Pakistan, Gursal.
Satu musuh
Di Kabul, sebanyak 3.000 orang berkumpul untuk mendukung pasukan keamanan Afghanistan, dan mengibarkan bendera serta spanduk Afghanistan yang menampilkan gambar polisi perbatasan yang tewas pekan lalu.
"Serbuan Pakistan adalah kesempatan besar bagi rakyat Afghanistan untuk menjadi bangsa yang bersatu," kata anggota Parlemen Baktash Seyawash kepada massa --yang meneriakkan "Mati lah ISI".
Dinas Intelijen Antar-Lembaga (ISI) adalah lembaga keamanan utama di Pakistan.
"Kita hanya mempunyai satu musuh dan itu adalah Pakistan," kata Seyawash.
Afghanistan dan Pakistan telah memiliki hubungan yang suram sejak Pakistan berdiri pada 1947, pada akhir kekuasaan kolonial Inggris mengenai India.
Afghanistan tak pernah secara resmi menerima perbatasan antara mereka, yang disusun oleh Inggris pada 1893 melewati tahan yang berpenduduk Suku Pashtun.
Pakistan membantu Taliban berkuasa di Afghanistan pada 1990-an, tapi menyatakan telah berhenti mendukung mereka setelah bergabung dalam aksi pimpinan AS melawan kelompok fanatik setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018