Peshawar, Pakistan, (Antara/AFP) - Sejumlah orang bersenjata membunuh dua pekerja kampanye pemilihan umum di kawasan suku baratlaut Pakistan, Senin, kata polisi, dalam insiden terakhir dari serangkaian serangan menjelang pemilu bersejarah di negara itu bulan depan. Orang-orang bersenjata itu menyerang mobil yang membawa para pekerja untuk calon independen Abdul Rahim Burki di daerah Dera Ismail Khan dekat kawasan suku yang dilanda kekerasan, kata kepala kepolisian Khalid Sohail. Militan Taliban telah berjanji menyerang partai-partai sekuler yang mengambil bagian dalam pemilihan umum 11 Mei dan serangan-serangan di wilayah baralaut pada akhir pekan menewaskan satu orang dan mencederai empat lain. "Penyerang memberondongkan tembakan ke arah mobil itu, supir kehilangan kendali dan kendaraan itu menabrak pohon pinggir jalan," kata Sohail kepada AFP. "Dua pekerja tewas dan tiga orang cedera," katanya, dengan menambahkan bahwa orang-orang bersenjata itu melarikan diri dengan sepeda-motor. Seorang polisi lain mengkonfirmasi serangan itu dan jumlah korban dan mengatakan, pekerja-pekerja yang cedera tidak berada dalam kondisi yang membahayakan. Ada kekhawatiran bahwa kekerasan militan akan merusak pemilihan umum nasional dan regional pada 11 Mei, yang akan menandai peralihan demokratis pertama di negara berkekuatan nuklir itu, yang selama beberapa periode berada di bawah kekuasaan militer. Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terakhir itu, namun Tehreek-e-Taliban Pakistan menyatakan mendalangi dua serangan pada Minggu dan pembunuhan Kamis terhadap calon dari partai sekuler Gerakan Muttahida Qaumi (MQM), mitra koalisi dalam pemerintah yang sebelumnya diancam oleh kelompok Taliban Pakistan. Pakistan dilanda serangan-serangan bom bunuh diri dan penembakan yang menewaskan lebih dari 5.200 orang sejak pasukan pemerintah menyerbu sebuah masjid yang menjadi tempat persembunyian militan di Islamabad pada Juli 2007. Kekerasan sektarian meningkat sejak gerilyawan Sunni memperdalam hubungan dengan militan Al Qaida dan Taliban setelah Pakistan bergabung dalam operasi pimpinan AS untuk menumpas militansi setelah serangan-serangan 11 September 2001 di AS. Pakistan juga mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas gerilyawan terhadap pasukan internasional di Afghanistan. Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al Qaida di kawasan suku baratlaut, dimana militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung pemerintah Pakistan. Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan. Islamabad mendesak AS mengakhiri serangan-serangan pesawat tak berawak, sementara Washington menuntut Pakistan mengambil tindakan menentukan untuk menumpas jaringan teror. Sentimen anti-AS tinggi di Pakistan, dan perang terhadap militansi yang dilakukan AS tidak populer di Pakistan karena persepsi bahwa banyak warga sipil tewas akibat serangan pesawat tak berawak yang ditujukan pada militan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan dan penduduk merasa bahwa itu merupakan pelanggaran atas kedaulatan Pakistan. Pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan puluhan serangan di kawasan suku Pakistan sejak pasukan komando AS membunuh pemimpin Al Qaida Osama bin Laden dalam operasi rahasia di kota Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011. (*/sun)