Pengamat: "BI Rate" 5,75 Persen Sudah Tepat
Jumat, 12 April 2013 20:38 WIB
Jakarta, (Antara) - Pengamat ekonomi dari INDEF Enny Sri Hartati mengatakan keputusan Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga (BI rate) 5,75 persen sudah tepat kendati dinilai masih terlalu tinggi.
"Suku bunga kita sudah terlalu tinggi, jika dinaikkan lagi akan semakin membuat 'high cost economy'," katanya saat dihubungi di Jakarta.
Enny melanjutkan, dengan tingginya biaya ekonomi tersebut maka justru akan mendorong inflasi dari sisi "cost push inflation" (inflasi karena meningkatnya biaya produksi).
"Padahal instrumen suku bunga itu efektif jika penyebab inflasinya demand pull inflation (inflasi karena kenaikan permintaan)," katanya.
Namun, menurut Enny, jika inflasi tetap tidak terkendali maka ke depannya BI pasti akan menaikkan "BI rate" untuk menjaga stabilitas pasar uang.
"Kalau di April masih tetap tinggi ya... kemungkinan besar memang BI harus meningkatkan 'BI rate', kalau tidak nanti keseimbangan pasar uang kita jadi terganggu," katanya.
Ia juga mengatakan, sebenarnya berharap "BI rate" dapat turun namun karena inflasi pada triwulan I 2013 masih relatif tinggi sehingga masih terhalang.
"Tapi memang pada prinsipnya inflasi pada triwulan pertama ini kan bukan dari sisi moneter, artinya dari sisi fundamental ekonomi, 'demand and supply' tidak begitu berkontribusi besar karena inflasi intinya kan relatif masih rendah. Cuma karena 'volatile food'-nya besar inflasinya jd tinggi," ujar Enny. (*/wij)
Pewarta : 34
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gempa laut magnitudo 5,9 guncang Kepulauan Tanimbar Maluku, guncangan sampai mana?
07 February 2026 5:17 WIB