Jambi, (Antara) - Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi menyatakan empat daerah kabupaten di Provinsi Jambi masuk kategori rawan akan konflik satwa khususnya harimau. "Keempat daerah ini diantaranya, daerah Merlung di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, sebagian Kabupaten Muarojambi, Batanghari dan Kerinci," ujar Kepala BKSDA Jambi, Trisiswo kepada wartawan di Jambi, Kamis. Menurut dia, kondisi itu terlihat dari kasus kemunculan seekor harimau liar di Jambi yang telah menyebabkan satu orang meninggal dan empat lainnya luka luka. "Pergerakannya mulai dari daerah Merlung atau perbatasan Jambi-Riau, sebagian Kabupaten Batanghari dan Muarojambi hingga perbatasan Jambi-Sumatra Selatan. Sementara ada kasus kemunculan harimau di Kabupaten Kerinci belum lama ini," katanya. Terkait hal itu, BKSDA Jambi bahkan tengah melakukan pembahasan terkait penanganan konflik satwa khususnya harimau di Jambi dengan mengundang berbagai pihak terkait seperti petugas dari Taman Safari Indonesia, Tim HarimauKita, para praktisi dan peneliti satwa liar serta beberapa organisasi pemerhati satwa liar. "Beberapa hari ke depan akan kami rumuskan dan beberkan apa saja yang perlu dilakukan terkait konflik ini kepada media," katanya. Sementara itu, Agus Budi Sucipto petugas dari Kementrian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan, kedepan akan ada sosialisasi khusus kepada warga khususnya yang berada di daerah rawan konflik satwa. Sosialisasi itu seperti warga tidak sembarangan keluar atau mendekati kawasan hutan sendirian. Warga juga diimbau mengandangkan hewan peliharaannya agar tidak memancing reaksi dari satwa liar. Begitu juga agar anak anak tidak sembarangan bermain diluar rumah. Sebagaimana diketahui, tim buru BKSDA Jambi tengah menyisir sejumlah daerah di Jambi untuk menangkap seekor harimau Sumatra yang masuk ke pemukiman dan menggegerkan sebagian warga Jambi selama hampir satu setengah bulan terakhir. Dari dugaan sementara, si Raja Hutan yang telah menyebabkan satu orang meninggal dan empat luka luka itu mengidap kelainan atau penyakit aneh. Kelainan itu terliat dari perilaku harimau berbeda dengan harimau liar lainnya, seperti jalannya yang berlenggak lenggok dan tidak berlari, atau hanya melukai tapi tidak memakan ketika bertemu manusia. Hanya saja, maraknya isu yang beredar di masyarakat justru menyulitkan proses pencarian dan penangkapan harimau tersebut. Bahkan BKSDA Jambi mengakui sempat kehilangan jejak akibat banyaknya isu ditengah warga yang melihat harimau, namun setelah dicek ternyata informasi itu palsu. Seekor harimau Sumatra pertama kali terpantau dan diketahui masuk ke pemukiman warga di daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan melukai seorang petani sawit di daerah itu. Selang beberapa hari, kemunculan harimau menggegerkan warga Batanghari yang juga melukai salah seorang warga. Total ada lima korban akibat konflik manusia-harimau, satu diantaranya meninggal dunia sejak satu setengah bulan terakhir. Untuk menangkap harimau yang diduga mengidap sakit aneh itu, BKSDA Jambi menggandeng petugas dari Taman Safari Indonesia, Tim HarimauKita serta beberapa organisasi pemerhati satwa dan lingkungan. (*/jno)