AS Puji Keberhasilan Intervensi Prancis di Mali
Jumat, 15 Februari 2013 8:55 WIB
Washington, (ANTARA/AFP) - Menteri Luar Negeri AS John Kerry hari Kamis memuji keberhasilan intervensi Prancis untuk menumpas militan garis keras di Mali utara dan mendesak para pemimpin Bamako menyelenggarakan pemilihan umum.
Dalam pernyataan menjelang pembicaraan dengan Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon, Kerry mengatakan, Mali akan menjadi salah satu masalah yang akan dibahas selama pertemuan pertama mereka di Kementerian Luar Negeri AS.
"Kami mendesak pemerintah (Mali) melanjutkan proses peralihan politik menuju pemilihan umum dan meningkatkan negosiasi dengan kelompok-kelompok yang tidak ekstrim di wilayah utara," kata Kerry.
Tentara Mali berusaha memilihkan keamanan setelah intervensi militer pimpinan Prancis membantunya menghalau miiltan terkait Al Qaida yang menguasai wilayah utara tahun lalu.
Prancis, yang bekerja sama dengan militer Mali, pada 11 Januari meluncurkan operasi ketika militan mengancam maju ke ibu kota Mali, Bamako, setelah keraguan berbulan-bulan mengenai pasukan intervensi Afrika untuk membantu mengusir kelompok garis keras dari wilayah utara.
Mali, yang pernah menjadi salah satu negara demokrasi yang stabil di Afrika, mengalami ketidakpastian setelah kudeta militer pada Maret 2012 menggulingkan pemerintah Presiden Amadou Toumani Toure.
Masyarakat internasional khawatir negara itu akan menjadi sarang baru teroris dan mereka mendukung upaya Afrika untuk campur tangan secara militer.
PBB telah menyetujui penempatan pasukan intervensi Afrika berkekuatan sekitar 3.300 prajurit di bawah pengawasan kelompok negara Afrika Barat ECOWAS. Dengan keterlibatan Chad, yang telah menjanjikan 2.000 prajurit, berarti jumlah pasukan intervensi itu akan jauh lebih besar.
Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis, sejak April tahun lalu.
Pemberontak suku pada pertengahan Januari 2012 meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya. Namun, perjuangan mereka kemudian dibajak oleh kelompok-kelompok muslim garis keras.
Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Hadiri pelantikan kelulusan, Wawako Maigus Nasir puji pendidikan karakter SMK-SMAK
08 October 2025 13:10 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018