Jakarta, (Antara Sumbar) - Tim DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Senin (12/12), mengunjungi Museum Tsunami Aceh, di samping tugas pokok melakukan pengawasan atas langkah pemerintah mengatasi persoalan pascagempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya.
Fahri bersama anggota dewan asal Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh Fadhullah menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum Tsunami Aceh yang merupakan desain dari Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.
Hal itu dilakukan sebelum meninggalkan Aceh dalam rangka memberikan bantuan dan melakukan pengawasan terhadap korban gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya.
Politikus PKS itu tampak antusias untuk mengikuti semua rangkaian perjalanan di dalam museum tersebut meskipun sesekali pria asal NTB itu mengaku saat kejadian berada di Kota Serambi Mekah.
"Waktu kunjungan ke Aceh, hanya menggunakan pesawat Pak JK (Jusuf Kalla) dan tidak bisa keluar karena tidak ada transportasi. Yang ada transportasi pengangkut mayat. Jadi, kami langsung bergabung dengan transportasi pengangkut mayat yang saat itu banyak mayat bergelimpangan ketika itu," ungkap Fahri di sela-sela lawatannya di Museum Tsunami Aceh, Jalan Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Senin (12/12).
Fahri mengatakan bahwa peristiwa tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 tentu menjadi memori luar biasa, baik bagi masyarakat Aceh maupun bangsa Indonesia sendiri.
Pasalnya, kata dia, peristiwa tsunami memang sangat luar biasa dalam kacamata kemanusian. Peristiwa itu langsung menghilangkan seperempat juta lebih nyawa lenyap dan wafat dalam hitungan detik yang singkat sekali.
"Peristiwa itu layak diabadikan menjadi memori kolektif bangsa ini melambangkan kedahsyatan peristiwa tersebut," katanya.
Fahri menegaskan dalam kondisi apa pun dalam dinamika yang ada di Aceh tidak akan bisa dilepaskan dari memori sejarah yang ada pada bangsa ini.
"Bangsa ini disangkutkan oleh peristiwa-peristiwa kolektif, termasuk Aceh dalam sejarah, perang kemerdekaan, kerajaan-kerajaan, dan pascakemeredekaan pun secara konsisten menujukkan posisinya sebagian dari masyarakat bangsa ini," katanya.
Oleh karena itu, Fahri menegaskan bahwa museum tidak hanya menjadi memori kolektif masyarakat Aceh, tetapi juga bangsa ini secara umum.
"Itu menjadi penting dengan adanya museum ini, saya mengharapkan adanya keterlibatan menteri terkait dalam memelihara agar musuem lebih baik dan masyarakat lain untuk datang dan bahkan akan merayakan ultahnya di Desember ini," katanya. (*)