Bogota, (ANTARA/AFP) - Empat prajurit Kolombia tewas dan dua lain cedera dalam bentrokan dengan gerilyawan FARC di wilayah selatan negara itu, Kamis, kata militer. Keempat prajurit itu adalah korban tewas militer pertama sejak kelompok gerilya kiri Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), yang sedang mengadakan perundingan perdamaian dengan pemerintah, mengakhiri gencata senjata sepihak dua bulan pada 20 Januari. Bentrokan itu, yang terjadi pada hari yang sama ketika negosiasi perdamaian akan dimulai lagi di Havana, meletus ketika pasukan berusaha menghalangi gerilyawan memasuki kota Policarpa di provinsi Narino, Kolombia selatan, kata militer dalam sebuah pernyataan. Sejak gencatan senjata berakhir, dua polisi ditangkap oleh FARC dan kelompok itu membom sebuah pipa minyak di provinsi wilayah selatan, Putumayo. FARC menganggap kedua polisi itu sebagai "tahanan perang" dan mengabaikan tuduhan pemerintah mengenai pelanggaran hak asasi manusia. Polisi-polisi tersebut ditangkap Jumat pekan lalu di provinsi Valle del Cauca, Kolombia baratdaya, dan itu merupakan penangkapan pertama oleh FARC sejak pembebasan apa yang mereka sebut kelompok terakhir 10 polisi dan prajurit yang mereka tahan. FARC juga menegaskan lagi janji mereka setahun lalu untuk tidak memulai lagi penculikan dengan tuntutan uang tebusan. Selama puluhan tahun FARC mendanai pemberontakannya dengan penarikan pajak atas perdagangan narkoba ilegal, penculikan dan pemerasan. Pada Februari 2012, kelompok itu menyatakan meninggalkan praktik penculikan dengan tuntutan uang tebusan, dan sejak November melakukan perundingan dengan pemerintah Kolombia. Negosiasi di Havana dimulai lagi sebelumnya bulan ini setelah masa libur tiga pekan dan kedua pihak berjanji mempercepat perundingan untuk mengakhiri konflik terakhir di kawasan Amerika Latin itu. Pemerintah Kolombia dan FARC memulai dialog di Oslo, ibu kota Norwegia, pada 18 Oktober yang bertujuan mengakhiri konflik setengah abad yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Perundingan itu dilanjutkan sebulan kemudian di Havana, Kuba. Tiga upaya sebelumnya untuk mengakhiri konflik itu telah gagal. Babak perundingan terakhir yang diadakan pada 2002 gagal ketika pemerintah Kolombia menyimpulkan bahwa kelompok itu menyatukan diri lagi di sebuah zona demiliterisasi seluas Swiss yang mereka bentuk untuk membantu mencapai perjanjian perdamaian. Kekerasan masih terus berlangsung meski upaya-upaya perdamaian dilakukan oleh kedua pihak. FARC, kelompok gerilya kiri terbesar yang masih tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964. Pemimpin FARC Timoleon Jimenez pada April tahun lalu membantah bahwa usulan negosiasi dengan pemerintah mengisyaratkan gerilyawan berniat segera menyerahkan diri. Pemimpin FARC itu mengatakan, kesenjangan kaya-miskin di Kolombia harus menjadi salah satu masalah yang dibahas dalam perundingan. (*/wij)