Padang, (Antara Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar), mencatat ekspor provinsi itu pada Agustus 2016 naik 9,12 persen dibandingkan Juli 2016 dengan nilai total 152,3 juta dolar Amerika Serikat (AS).
"Pada Juli 2016 ekspor Sumbar mencapai 139,5 juta dolar AS, Agustus 2016 naik jadi 152,3 juta dolar AS," kata Kepala BPS Sumbar, Dody Herlando di Padang, Kamis.
Menurutnya kenaikan ekspor nonmigas Agustus 2016 terjadi pada beberapa negara tujuan yaitu India naik 5,49 persen, Amerika Serikat 35,21 persen, dan Bangladesh 165,6 persen.
"Sedangkan ekspor ke beberapa negara lain mengalami penurunan yaitu Singapura 28,53 persen, Belanda 27,77 persen dan Tiongkok 10,45 persen," tambah dia.
Ia menyebutkan golongan barang ekspor paling besar pada Juli 2016 adalah lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 102,6 juta dolar AS, karet dan barang dari karet 33,6 juta dolar AS, dan belerang, garam serta kapur 3,1 juta dolar AS.
Negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada Agustus 2016 ke India sebesar 63,7 juta dolar AS, Amerika Serikat 36 juta dolar AS, dan Bangladesh sebesar 30 juta dolar AS.
Ia menyampaikan ke India memberi peran 38,25 persen, Amerika Serikat 20,41 persen dan Bangladesh 4,1 persen.
Sementara ekspor produk industri naik sebesar 9,77 persen dan ekspor pertanian turun 19,33 persen.
Kontribusi sektor industri terhadap total ekspor Sumatera Barat periode Januari-Agustus 2016 mencapai 97,29 persen, dan kontribusi sektor pertanian sebesar 2,07 persen, lanjutnya.
Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar, Puji Atmoko mengatakan komoditas ekspor daerah itu masih didominasi oleh crude palm oil (CPO) atau minyak sawit serta karet dalam lima tahun terakhir.
"Hasil industri pengolahan di sektor perkebunan masih menjadi komoditas ekspor utama di CPO berkontribusi sebesar 71 persen dan karet 16 persen," ujar dia.
Namun ia menilai negara-negara tujuan ekspor sedang mengalami perlambatan ekonomi sehingga mempengaruhi ekspor dan salah satu cara menyiasati adalah melalui industri pengolahan, agar produk yang dijual memiliki nilai tambah.
Ke depan yang perlu dilakukan adalah meningkatkan nilai tambah CPO melalui industri pengolahan jika peningkatan produksi tidak dimungkinkan lagi, terangnya. (*)