Washington, (ANTARA/Reuters) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton pada Rabu dengan nada marah membela tindakannya dalam menangani kasus terkait serangan 11 September lalu terhadap misi AS di kota Benghazi, Libya, dan membantah ada usaha untuk mengecoh rakyat Amerika. Serangan oleh kelompok militan bersenjata yang menewaskan Duta Besar Christopher Stevens dan tiga warga Amerika mengancam menodai reputasi Hillary sebagai menteri luar negeri dan dapat mempengaruhi citranya seandainya dia memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada 2016. Dalam dengar pendapat di Kongres, Menlu Hillary tampak emosi dan geram ketika ia berbicara untuk menenangkan para keluarga korban dan menjadi marah saat seorang senator dari Republik menuding pemerintahan Obama menyesatkan negara tentang apakah insiden Benghazi berasal dari suatu aksi protes. "Dengan penuh rasa hormat, faktanya adalah empat warga Amerika tewas," kata Ny. Clinton membalas ketika ia berbicara di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Kehadirannya dalam rapat itu tertunda selama lebih sebulan karena sakit yang dideritanya. "Apakah karena suatu aksi protes atau apakah karena orang-orang keluar rumah untuk berjalan kaki pada satu malam yang memutuskan mereka akan pergi membunuh sejumlah warga Amerika? Adakah perbedaannya?" katanya emosi sambil menggunakan tangannya untuk memberi penekanan. Menlu Hillary menyebut insiden Benghazi sebagai bagian dari sejarah panjang kekerasan serta instabilitas sejak pergolakan di sejumlah negara Arab mulai tahun 2011, yang menumbangkan penguasa di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. "Benghazi tidak terjadi dalam suatu vakum," ujarnya. "Revolusi Arab telah mencabik-cabik dinamika kekuatan dan memporakporanda pasukan keamanan di seantero kawasan ini." Serangan di Bengahzi itu terjadi bersamaan waktunya dengan aksi massa, yang marah terhadap tayangan video yang menghina Nabi Muhammad, menyerang kedutaan besar AS di kairo, yang kemudian diikuti serangan-serangan terhadap kedubes AS di Tunia, Yaman dan Sudan. Kubu Republik menyerang Hillary dan pemerintahan Presiden Barack Obama secara umum, dengan Senator Bob Corker menyatakan bahwa serangan di Benghazi dan respons AS memperlihatkan ketaksiapan atas kejadian-kejadian yang melanda kawasan itu dan Senator Rand Paul mengatakan Menlu Hillary mestinya dipecat. Menlu Hillary, yang menggemakan komentar yang dibuat pertama kali pada 15 Oktober, mengatakan bahwa "saya bertanggung jawab" atas kekurangan dalam pengamanan di kantor misi AS itu. Dia menekankan bahwa dirinya telah menerima semua rekomendasi panel independen yang menyelidiki insiden tersebut dan para pejabat di tingkat lebih rendah bertanggung jawab. Dia mengatakan bahwa semua berkomitmen untuk memperbaiki dan dia bertekad untuk meninggalkan Deplu AS dan negerinya lebih aman dan damai serta lebih kuat. (*/sun)