Dirjen P2PL: Makanan Pengungsi Negatif Bahan Berbahaya
Senin, 21 Januari 2013 20:12 WIB
Jakarta, (ANTARA) - Kualitas makanan, minuman serta air di tempat-tempat pengungsian korban banjir hingga saat ini dinyatakan cukup bagus dan bebas dari bahan berbahaya maupun bahan beracun, demikian hasil dari pemeriksaan Balai Besar Teknologi Kesehatan Lingkungan (BBTKL).
"Selain memeriksa pasokan air bersih, maka saya juga meminta unit DitJen P2PL yaitu BBTKL untuk melakukan pengambilan sampel makanan dan minuman dari dapur umum dan lain-lain di beberapa lokasi pengungsian," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Senin.
Tjandra mengatakan telah meminta BBTKL untuk mengambil sampel makanan dan minuman dari dapur umum di berbagai lokasi pengungsian pada Sabtu-Minggu (19-20/1) lalu pada menu makan siang dari dapur umum RW 09 Kebon Baru Tebet, Posko Attahiriyah, dapur umum RW 12 Bukit Duri Tebet, posko Kelurahan Bukit duri, dapur umum RW 04/07 Kebon Baru Tebet.
Sampel juga diambil dari menu makan malam yaitu dari posko Kelurahan Bukit duri dan dapur umum RW 12 Bukit duri Tebet.
Sedangkan sampel air diambil dari mesin pengolah air yang ditempatkan BBTKL untuk ketersediaan air bersih menggunakan sistem RO (reverse osmotic) yaitu termasuk pemeriksaan selang air baku, air olahan RO dan pemeriksaan malam air baku dari selang, air baku dari tandon dan air olahan RO.
"Seluruh sampel makanan dan minuman serta air bersih diuji secara kimiawi maupun biologi. Seluruh sampel makanan diperiksa terhadap bahan kimia berbahaya, yaitu timbal, arsen, sianida, formalin, boraks, nitrit, amoniak, merkuri, sulfida, dan fenol, hasilnya semuanya negatif," ujar Tjandra.
Sementara itu, parameter sampel air diperiksa kemungkinan adanya timbal, arsen, sianida, nitrit, amoniak, merkuri, sulfida, dan fenol dan juga menunjukkan hasil yang negatif.
Dirjen P2PL juga mengimbau warga yang sudah mulai kembali ke rumahnya masing-masing untuk tetap menjaga kebersihan untuk mencegah terjangkit penyakit menular seperti diare, leptospirosis, demam berdarah dan lainnya.
"Saya berpesan agar bila banjir telah surut dan warga akan membersihkan sisa lumpur atau air kotor di rumah, gunakan sepatu boot dan pelindung tangan, agar kulit tangan dan kaki sesedikit mungkin kontak dengan kotoran dan lumpur sisa banjir," kata Tjandra mengingatkan. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018