Padang, (AntaraSumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat ekspor provinsi itu pada Januari 2016 turun 17,23 persen dibandingkan Desember 2015 dengan total nilai 98,2 juta dolar Amerika Serikat.
"Pada Desember 2015 ekspor Sumbar mencapai 118,7 juta dolar AS, nilai ekspor Januari 2016 juga turun 31,05 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya," kata Kepala BPS Sumbar Dody Herlando di Padang, Senin.
Ia memaparkan penurunan ekspor nonmigas Januari 2016 terjadi pada beberapa negara tujuan. Penurunan ekspor tertinggi secara persentase terjadi ke Myanmar 60,77 persen, Amerika Serikat 7,96 persen, Singapura 39,81 persen, Pakistan 22,29 persen, dan Inggris 10,87 persen.
Ia menyebutkan golongan barang ekspor terbesar pada Januari 2016 adalah lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 65,9 juta dolar AS, golongan karet dan barang dari karet 22,4 juta dolar AS, kopi, teh dan rempah-rempah 12,9 juta dolar AS.
Sementara, lanjut dia, negara tujuan ekspor nonmigas Januari 2016 terbesar ke India dengan total nilai 46,1 juta dolar AS, Amerika Serikat 21,1 juta dolar AS, Singapura 10 juta dolar AS, Pakistan 9 juta dolar AS, dan Inggris 2,4 juta dolar AS.
Ekspor ke India memberikan peran sebesar 46,99 persen terhadap total ekspor Sumbar Januari 2016, Amerika Serikat 21,47 persen, dan Singapura 10,15 persen, katanya.
Sedangkan menurut sektor, ekspor produk industri Januari 2016 turun 15,96 persen dibanding ekspor Desember 2015 dan ekspor hasil pertanian juga turun 52,96 persen, lanjutnya.
Sementara itu ekspor ke beberapa tujuan negara lainnya mengalami peningkatan diantaranya India naik 31,90 persen, Jepang 138,92 persen.
Dody menambahkan semua ekspor Sumbar Januari 2016 semuanya berasal dari pelabuhan muat Teluk Bayur yang juga mengalami penurunan sebesar 17,23 persen dibanding bulan sebelumnya dan turun 31,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Puji Atmoko mengatakan komoditas ekspor daerah itu masih didominasi oleh crude palm oil (CPO) atau minyak sawit serta karet dalam lima tahun terakhir.
"Hasil industri pengolahan di sektor perkebunan masih menjadi komoditas ekspor utama di CPO berkontribusi sebesar 71 persen dan karet 16 persen," kata dia.
Namun ia menilai negara-negara tujuan ekspor sedang mengalami perlambatan ekonomi sehingga mempengaruhi ekspor dan salah satu cara menyiasati adalah melalui industri pengolahan, agar produk yang dijual memiliki nilai tambah.
Ke depan yang perlu dilakukan adalah meningkatkan nilai tambah CPO melalui industri pengolahan jika peningkatan produksi tidak dimungkinkan lagi, tambah dia. (*)