Taliban Afghanistan Kecam Intervensi Prancis di Mali
Selasa, 15 Januari 2013 16:18 WIB
Kabul, (ANTARA/AFP) - Gerilyawan Taliban Afghanistan Selasa mengecam intervensi militer Prancis di Mali, memperingatkan bahwa negara itu akan menanggung konsekuensi-konsekuensi "malapetaka".
Prancis, yang menarik pasukan terakhirnya dari Afghanistan Desember, melancarkan serangan-serangan udara Jumat untuk mendukung tentara Mali dalam satu operasi terhadap gerilyawan Islam dan mengirim pasukan ke negara Afrika Barat itu.
Taliban dalam satu pernyataan di lamannya mengatakan bahwa Prancis harus mengambil pelajaran dari perang-perang "yang gagal" di Afghanistan dan Irak.
"Ketika Prancis mulai proses penarikan pasukannya dari Afghanistan dalam waktu belakangan ini tampaknya karena pemerintah Prancis ingin memperluas sikap anti-perangnya ke wilayah-wilayah lain dunia," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid.
"Akan tetapi Prancis melanggar komitmennya bagi perdamaian dengan melanggar hukum mengirim tentaranya ke negara Afrika utara Mali.
Taliban melancarkan perang 11 tahun terhadap pasukan NATO pimpinan Amerika Serikat di Afghanistan dan dan tidak dapat dikalahkan sementara pasukan asing bersiap-siap mundur akhir tahun depan.
"Prancis melancarkan perang terhadap negara Muslim Mali tanpa memiliki jurisdiksi sah," kata Taliban, mendesak pemerintah-pemerintah dan organisasi-organisasi internasional menghentikan "pelanggaran-pelangaran hukum seperti itu".
Intervensi itu "tidak hanya malapetaka bagi Mali tetapi juga Prancis", kata pernyataan itu.
Pasukan Islam telah bersumpah akan melakukan balas dendam terhadap Prancis.
"Prancis menyerang Islam. Kami akan menyerang di jantung Prancis," kata Abou Dardar dari cabang Al Qaida di Magreb Islam (AQIM).
Prancis mendapat dukungan PBB bagi aksi militernya di Mali dan memperkuat pasukan daratnya dengan satuan lapis baja setelah mengusir gerilyawan Islam dari pangkalan-pangkalannya di utara dengan serangan-serangan udara.
Satu sidang Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara mengenai Mali memutuskan dengan suara bulat "memahami dan mendukung" intervensi militer, kata Duta Besar Prancis untuk PBB Gerard Araud kepada wartawan Senin malam. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga Afghanistan minta Pangeran Harry diadili usai pengakuan bunuh 25 orang Afghanistan
17 January 2023 6:23 WIB, 2023
Pertemuan OKI hasilkan resolusi tentang situasi kemanusiaan di Afghanistan
20 December 2021 12:52 WIB, 2021
Tidak fokus, kegagalan Indonesia untuk ciptakan gol saat lawan Afghanistan
17 November 2021 7:29 WIB, 2021
Ratusan atlet Afghanistan dievakuasi, FIFA dorong internasional jadi rumah baru bagi mereka
27 October 2021 6:17 WIB, 2021
Uni Eropa nilai perilaku pemerintah Taliban tak menggembirakan, ekonomi Afghanistan terancam runtuh
04 October 2021 8:01 WIB, 2021
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018