Intervensi Mali akan Tempatkan Warga Prancis dalam Resiko
Minggu, 13 Januari 2013 8:08 WIB
Bamako, (ANTARA/Reuters) - Intervensi militer Prancis terhadap para pejuang Islam di Mali utara akan menempatkan warga negara Prancis
dalam resiko, kata juru bicara kelompok gerilyawan Ansar Dine pada Sabtu.
"Ada konsekuensi, tidak hanya untuk sandera Prancis, tetapi
juga untuk semua warga negara Prancis dimanapun mereka menemukan dirinya dalam dunia Muslim," kata Sanda Ould Boumama kepada Reuters.
"Kami akan terus melawan dan membela diri. Kami siap mati berjuang," tegasnya.
Pemerintah Mali pada Jumat mengumumkan keadaan darurat di seluruh negeri, sementara tentara pemerintah telah melancarkan serangan terhadap gerilyawan yang telah menduduki bagian utara negera tersebut, kata seorang pejabat senior kepada wartawan.
Keputusan itu dikeluarkan dalam pertemuan Dewan Menteri di bawah pimpinan Presiden Dioncounda Traure. Keputusan tersebut juga diambil saat pasukan gerilyawan bergerak ke arah selatan dan terlibat bentrokan dengan tentara pemerintah dalam dua hari belakangan.
Pasukan udara Prancis dilaporkan melancarkan serangan udara di Mali utara pada Jumat, dalam tindakan untuk mendukung pasukan pemerintah Mali guna menghalangi gerakan gerilyawan ke arah selatan.
Koalisi gerilyawan --AQIM, MUJAO dan Ansar Dine-- memasuki Konna pada Kamis, setelah berhari-hari pertempuran dengan pasukan pemerintah yang berpusat di kota kecil tersebut.
Namun melalui campur-tangan udara, militer Mali berhasil merebut kembali kotapraja Konna dan menetralkan semua kelompok Jihad pada Kamis sore, kata beberapa sumber militer.
Cabang Al Qaida di Afrika Utara, AQIM, dipandang sebagai ancaman utama di Wilayah Sahel. Rencana campur-tangan militer disusun karena ada kekhawatiran Mali utara dapat menjadi termpat persembunyian gerilyawan fanatik dan penyelundup manusia serta narkotika.
Dewan Keamanan PBB telah menyetujui rencana campur-tangan yang diajukan oleh ECOWAS, dan Uni Afrika telah menyeru semua negara anggotanya agar mendukung militer Mali.
Sementara itu Amerika Serikat Jumat mengatakan pihaknya bergabung dengan tujuan Prancis untuk mencegah menjadikan Mali tempat persembunyian yang aman bagi kelompok-kelompok teroris, setelah Paris menggunakan kekuatan udara mendukung serangan pemerintah pada gerilyawan.
"Kami sedang memantau situasi dengan cermat," kata Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Tommy Vietor kepada AFP.
"Kami telah mencatat bahwa pemerintah Mali telah meminta dukungan, dan kami berbagi tujuan dengan Prancis untuk mencegah tempat teroris yang aman di wilayah ini."
Sementara itu Jurubicara Departemen Luar Negeri Victoria Nuland mengatakan bahwa Washington sedang "berkonsultasi sangat erat" dengan pemerintah Prancis mengenai pertempuran itu.
Presiden Prancis Francois Hollande mengumumkan sebelumnya bahwa pasukan Prancis secara aktif mendukung ofensif oleh pasukan pemerintah Mali terhadap gerilyawan Islam yang menguasai bagian utara negara itu dan bergerak ke selatan.
"Operasi itu akan berlangsung selama diperlukan," kata Hollande dalam pernyataan singkat, tidak memberikan rincian tentang skala dukungan Prancis. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018