Pasukan Gabungan Libya, Aljazair, Tunisia Perkuat Perbatasan
Minggu, 13 Januari 2013 7:08 WIB
Ghadames, Libya, (ANTARA/AFP) - Para perdana menteri Libya, Aljazair dan Tunisia, Sabtu, memutuskan untuk memperkuat keamanan perbatasan dan pasukan gabungan mengatasi tantangan regional termasuk terorisme, perdagangan senjata dan kejahatan terorganisir.
Keputusan itu diambil oleh Perdana Menteri Libya Ali Zeidan, Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal dan Perdana Menteri Tunisia Hamadi Jebali selama bertemu di oasis Libya selatan Ghadames.
Mereka berjanji dalam rencana 11-pasal untuk "membuat pos pemeriksaan perbatasan umum dan mengintensifkan kerja sama di bidang keamanan melalui patroli bersama," dan bersumpah untuk juga mengatasi kejahatan terorganisir dan terorisme.
Para perdana menteri juga membahas krisis di Mali, yang berbatasan dengan Aljazair dan di mana tentara siap untuk merebut kembali sebuah kota kunci dari kelompok Islamis yang mengancam untuk bergerak maju ke ibu kota setelah Prancis mengirim angkatan udara.
"Hal ini diperlukan untuk menemukan solusi politik guna mengatasi krisis ini dengan meningkatkan dialog antara pihak-pihak yang berbeda di Mali demi melestarikan kedaulatan dan kesatuan wilayahnya," kata mereka dalam satu pernyataan bersama.
Perdana menteri Libya mengatakan kepada wartawan, situasi "di Mali telah membuat perlu bagi kita untuk bertemu dalam rangka mencegah dan mengatasi konsekuensinya."
Hal ini membutuhkan "koordinasi erat antara militer dan dinas intelijen kami untuk mencegah sesuatu yang mungkin mempengaruhi keamanan kami, pergerakan orang, perdagangan senjata dan narkoba, terorisme serta perdagangan manusia," katanya.
Berwenang Libya pada Desember memutuskan untuk menutup perbatasan negara itu dengan Aljazair, Niger, Chad dan Sudan, menetapkan wilayah sekatan yang kaya minyak sebagai zona militer, dalam sebuah langkah yang dilihat oleh para analis sebagai respon terhadap krisis di Mali.
Meskipun Libya tidak berbagi perbatasan dengan Mali, namun hal itu telah berpengaruh buruk dengan limpahan senjata dan pejuang, baik Tuareg dan kelompok Islam, yang menyertai pemberontakan 2011 yang menggulingkan diktator Moamer Kadhafi.
Dengan pemerintah Afrika Barat sekarang mendorong untuk intervensi mengusir kelompok jihad dari Mali utara, Libya dan negara-negara tetangganya, khususnya Aljazair, takut bahwa para pejuang dan senjata mereka akan mengalir kembali ke utara melintasi Sahara. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Duka daerah tetangga "Kota Kembang", 80 korban longsor di Cisarua masih dicari
25 January 2026 12:23 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018