Presiden Afghanistan Peringatkan Tentang Imunitas Tentara Asing
Jumat, 19 Oktober 2012 16:34 WIB
Kabul, (ANTARA/AFP) - Presiden Afghanistan Hamid Karzai telah memperingatkan kemungkinan masalah-masalah yang muncul di masa depan berkaitan isu sensitif kekebalan dari penuntutan untuk setiap tentara Amerika atau NATO yang dikerahkan di negara itu setelah 2014.
Pasukan NATO yang dipimpin AS terdiri lebih dari 100.000 tentara akan mengakhiri operasi-operasi perangnya pada akhir tahun itu, namun ribuan tentara diharapkan masih tetap berada di Afghanistan untuk melatih dan membantu pasukan Afghanistan.
Di Irak, Washington menarik semua pasukannya, tanpa meninggalkan sisa prajurit, setelah gagal mendapatkan jaminan Baghdad untuk memberikan kekebalan atas penuntutan tentaranya di pengadilan setempat.
Karzai mengatakan dalam satu pernyataan bahwa ia telah diberitahu oleh Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen selama pembicaraan di Kabul pada Kamis, bahwa rakyat Afghanistan mungkin tidak "mengizinkan pemerintah mereka untuk memberikan kekebalan kepada tentara asing".
Hal ini akan terjadi "jika perang dan ketidakamanan berlanjut di Afghanistan, perbatasan-perbatasan Afghanistan yang tidak dilindungi, dan imunitas bagi pasukan asing yang terjadi berkaitan dengan masalah ini ", katanya.
Amerika Serikat dan Afghanistan telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis yang mengatur hubungan setelah penarikan tentara 2014, tetapi kekebalan menjadi masalah yang terpisah dari perundingan-perundingan itu.
Masalah ini menjadi rumit setelah seorang prajurit AS mengamuk dan melakukan pembunuhan pada Maret yang dituduh menewaskan 17 warga desa Afghanistan di rumah mereka pada malam hari sebelum diterbangkan keluar dari negara itu.
Politisi Afghanistan menyerukan agar dia diserahkan untuk
menghadapi pengadilan lokal.
Isu-isu lain seperti pembakaran Al-Quran di satu pangkalan Amerika dan kematian warga sipil di tangan pasukan NATO, terutama melalui serangan udara pesawat tak berawak, juga telah menimbulkan kemarahan mendalam di antara rakyat Afghanistan.
"Terlepas dari kenyataan rakyat kita miskin dan hidup dalam kemiskinan, mereka pertama ingin menghormati kedaulatan nasional dan keamanan bagi negara serta anak-anak mereka," kata Karzai.
"Dengan demikian status hukum pasukan asing setelah 2014 tergantung pada jaminan keamanan, stabilitas dan perlindungan pada perbatasan Afghanistan. "
Rasmussen sebelumnya mengatakan pada konferensi pers bersama dengan Karzai bahwa NATO berencana untuk membentuk satu misi baru di Afghanistan setelah 2014.
"Ini tidak akan menjadi misi tempur, ia akan fokus pada pelatihan, saran dan bantuan, dan kita sekarang berencana untuk membentuk misi ini," katanya. (*/wij)
Pewarta : 34
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga Afghanistan minta Pangeran Harry diadili usai pengakuan bunuh 25 orang Afghanistan
17 January 2023 6:23 WIB, 2023
Pertemuan OKI hasilkan resolusi tentang situasi kemanusiaan di Afghanistan
20 December 2021 12:52 WIB, 2021
Tidak fokus, kegagalan Indonesia untuk ciptakan gol saat lawan Afghanistan
17 November 2021 7:29 WIB, 2021
Ratusan atlet Afghanistan dievakuasi, FIFA dorong internasional jadi rumah baru bagi mereka
27 October 2021 6:17 WIB, 2021
Uni Eropa nilai perilaku pemerintah Taliban tak menggembirakan, ekonomi Afghanistan terancam runtuh
04 October 2021 8:01 WIB, 2021
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018