Presiden Afghanistan Peringatkan Soal Ancaman IS
Kamis, 26 Maret 2015 8:51 WIB
Washington, (Antara/Xinhua-OANA) - Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang sedang berkunjung ke AS, pada Rabu (25/3) memperingatkan bahwa kelompok fanatik seperti Negara Islam (IS) menimbulkan "ancaman dan bahaya" bagi peralihan kekuasaan di Afghanistan.
"Peralihan keamanan di Afghanistan berlangsung dengan latar-belakang peningkatan tak terduga ekstremisme agama di Timur Tengah," kata Ghani dalam pertemuan gabungan di Kongres AS.
"Gerakan teror yang sasarannya adalah merusak kestabilan setiap negara di wilayah itu mencari pangkalan operasi baru. Kami berada di garis depan."
Cuma beberapa jam sebelum Ghani berpidato di hadapan anggota parlemen AS, enam orang tewas dan lebih dari 30 orang lagi cedera dalam pemboman mobil bunuh diri di dekat istana presiden di Ibu Kota Afghanistan, Kabul.
"Di Barat, Daesh sudang mengirim pengawal canggih ke Afghanistan Barat dan Selatan untuk merusak kerentanan kami," kata Ghani, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Ia menggunakan nama IS dalam bahasa Arab. "Di Selatan, operasi kontra-perlawanan Pakistan ... mendorong anggota Taliban dari Waziristan Selatan ke arah perbatasan Afghanistan."
Ghani saat ini melakukan kunjungan resmi selama satu pekan ke Amerika Serikat untuk meletakkan dasar bagi hubungan baru antara kedua negara, setelah lebih dari satu dasawarsa hubungan keruh di bawah kepemimpinan presiden Afghanistan Hamid Karzai.
Sehubungan dengan kemerosotan kekuatan pasukan keamanan Afghanian, yang kini berjumlah 330.000 personel, pemerintah baru yang rapuh dan gagal membentuk kabinet dengan anggot apenuh enam bulan setelah pembentukan, dan kekhawatiran bahwa IS akan meraih pijakan di Afghanistan, Presiden AS Barack Obama, Rabu, mengumumkan tak ada pengurangan tentara AS di Afghanistan pada tahun ini.
Obama sebelumnya berencana mengurangi jumlah tentara AS saat ini, 9.800 prajurit, di Afghanistan menjadi sebanyak 5.500 personel pada akhir 2015 dan menarik semua tentara paling lambat pada penghujung 2016, ketika masa jabatan Presiden Obama berakhir.
Sementara itu, Obama mengatakan jadwal waktu penarikan sampai 2016 akan diputuskan pada akhir tahun ini.
Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest pada Senin (23/3) membiarkan kemungkinan terbuka untuk menyisakan sebanyak 1.000 sampai 1.500 prajurit di Afghanistan untuk tujuan perlindungan. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga Afghanistan minta Pangeran Harry diadili usai pengakuan bunuh 25 orang Afghanistan
17 January 2023 6:23 WIB, 2023
Pertemuan OKI hasilkan resolusi tentang situasi kemanusiaan di Afghanistan
20 December 2021 12:52 WIB, 2021
Tidak fokus, kegagalan Indonesia untuk ciptakan gol saat lawan Afghanistan
17 November 2021 7:29 WIB, 2021
Ratusan atlet Afghanistan dievakuasi, FIFA dorong internasional jadi rumah baru bagi mereka
27 October 2021 6:17 WIB, 2021
Uni Eropa nilai perilaku pemerintah Taliban tak menggembirakan, ekonomi Afghanistan terancam runtuh
04 October 2021 8:01 WIB, 2021
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018