Washington, (Antara/Xinhua-OANA) - Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang sedang berkunjung ke AS, pada Rabu (25/3) memperingatkan bahwa kelompok fanatik seperti Negara Islam (IS) menimbulkan "ancaman dan bahaya" bagi peralihan kekuasaan di Afghanistan. "Peralihan keamanan di Afghanistan berlangsung dengan latar-belakang peningkatan tak terduga ekstremisme agama di Timur Tengah," kata Ghani dalam pertemuan gabungan di Kongres AS. "Gerakan teror yang sasarannya adalah merusak kestabilan setiap negara di wilayah itu mencari pangkalan operasi baru. Kami berada di garis depan." Cuma beberapa jam sebelum Ghani berpidato di hadapan anggota parlemen AS, enam orang tewas dan lebih dari 30 orang lagi cedera dalam pemboman mobil bunuh diri di dekat istana presiden di Ibu Kota Afghanistan, Kabul. "Di Barat, Daesh sudang mengirim pengawal canggih ke Afghanistan Barat dan Selatan untuk merusak kerentanan kami," kata Ghani, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Ia menggunakan nama IS dalam bahasa Arab. "Di Selatan, operasi kontra-perlawanan Pakistan ... mendorong anggota Taliban dari Waziristan Selatan ke arah perbatasan Afghanistan." Ghani saat ini melakukan kunjungan resmi selama satu pekan ke Amerika Serikat untuk meletakkan dasar bagi hubungan baru antara kedua negara, setelah lebih dari satu dasawarsa hubungan keruh di bawah kepemimpinan presiden Afghanistan Hamid Karzai. Sehubungan dengan kemerosotan kekuatan pasukan keamanan Afghanian, yang kini berjumlah 330.000 personel, pemerintah baru yang rapuh dan gagal membentuk kabinet dengan anggot apenuh enam bulan setelah pembentukan, dan kekhawatiran bahwa IS akan meraih pijakan di Afghanistan, Presiden AS Barack Obama, Rabu, mengumumkan tak ada pengurangan tentara AS di Afghanistan pada tahun ini. Obama sebelumnya berencana mengurangi jumlah tentara AS saat ini, 9.800 prajurit, di Afghanistan menjadi sebanyak 5.500 personel pada akhir 2015 dan menarik semua tentara paling lambat pada penghujung 2016, ketika masa jabatan Presiden Obama berakhir. Sementara itu, Obama mengatakan jadwal waktu penarikan sampai 2016 akan diputuskan pada akhir tahun ini. Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest pada Senin (23/3) membiarkan kemungkinan terbuka untuk menyisakan sebanyak 1.000 sampai 1.500 prajurit di Afghanistan untuk tujuan perlindungan. (*/sun)