WHO Mulai Percobaan Vaksinasi Ebola di Guinea
Jumat, 6 Maret 2015 11:14 WIB
PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (5/3) mengumumkan organisasi itu akan mulai melakukan uji-coba vaksinasi Ebola di Guinea untuk menguji apakah vaksin itu efektif untuk mencegah Ebola.
Percobaan Tahap III di salah satu negara paling terpengaruh Ebola di dunia direncanakan dimulai pada 7 Maret untuk menguji keefektifan dan kemanjuran VSV-EBOV guna mencegah Ebola, berdasarkan data dari percobaan awal klinik, kata WHO.
"Sasaran percobaan ini ada dua-tahap: untuk menilai apakah vaksin tersebut bisa melindungi kontak yang diberi vaksin dan apakah pemberian vaksin kepada kontak akan menciptakan penyangga --atau lingkaran orang yang terlindungi-- seputar kasus indeks untuk mencegah penyebaran lebih lanjut penyakit itu," kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam satu taklimat harian.
"Jika satu vaksin terbukti efektif, itu akan menjadi alat pencegahan pertama terhadap Ebola dalam sejarah," kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan di Jenewa, sebagaimana diberitakan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat.
Menurut keterangan terkini WHO mengenai Ebola, 132 kasus yang baru dikonfirmasi telah dilaporkan di Afrika Barat dalam satu pekan sampai 1 Maret, peningkatan dari pekan sebelumnya, yaitu 99 kasus baru. Dan di Guinea, jumlah kasus yang dikonfirmasi setiap pekan telah bertambah.
WHO menyatakan vaksinasi itu direncanakan berlangsung di daerah Basse Guinee, wilayah yang saat ini memiliki jumlah kasus tertinggi di Guinea dan vaksinasi juga akan diusulkan dilakukan untuk pekerja garis depan di daerah tempat percobaan berlangsung.
"Vaksin VSV-EBOV dipilih untuk percobaan yang direncanakan berdasarkan kerangka kerja parameter yang dikembangkan oleh campur tangan Komite Penasehat Teknis dan Sains WHO mengenai Percobaan Ebola," kata WHO. Organisasi dunia itu menyatakan berbagai kriteria meliputi progel keamanan yang dapat diterima, induksi reaksi kekebalan yang layak, termasuk anti-bodi penetral, dan ketersediaan pasokan dosis vaksin yang memadai dan tepat waktu.
WHO juga menyatakan pembuat vaksin tersebut telah menjamin akan tersedia cukup vaksin dalam beberapa bulan ke depan dan sumber keuangan juga tersedia untuk pengadaan vaksin di daerah yang terpengaruh.
Vaksin VSV-EBOV dikembangkan oleh Lembaga Kesehatan Masyarakat Kanada. Vaksin itu mendapat lisensi bagi NewLink Genetics, perusahaan yang mengembangkan pengobatan kekebalan tubuh. Pada November tahunlalu, NewLink Genetics dan Merck, satu perusahaan kesehatan, mengumumkan kerja sama mereka mengenai vaksin tersebut. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018