Donetsk, Ukraina, (Antara/AFP) - Subuh menjelang pagi, Vladimir Bobryshchev yang baru saja pulang ke rumah setelah bekerja sepanjang malam, tiba-tiba melihat sebuah roket melayang di angkasa dan jatuh mengarah tepat ke rumahnya. Ia melihat roket itu menghantam rumahnya dan kemudian bergegas untuk menyelamatkan dua orang anak lelaki dan istrinya yang berada di dalam rumah. Bobryshchev kemudian harus menerima kenyataan bahwa anak laki-lakinya yang baru berusia empat tahun, Artyom, tewas di tempat dan dimakamkan di Donetsk, sementara istri dan anak berusia tujuh tahun, dirawat di rumah sakit karena cedera serius. "Apakah anak saya teroris yang seperti mereka katakan?," katanya dalam nada marah yang ditujukan kepada pasukan Ukraina yang melancarkan serangan roket untuk menumpas pemberontak. Pihak Kiev memang sering menyebut pemberontak tersebut sebagai teroris. Dengan tangan yang penuh luka, pekerja di pabrik besi berusia 30 tahun itu dengan bersimbah air mata berujar: "Saya berusaha mengeluarkan mereka dari puing-puing. Tapi tidak bisa menyelamatkan nyawa anak saya." Insiden yang terjadi pada Minggu lalu itu memperlihatkan bahaya yang harus dihadapi warga sipil akibat perang di timur Ukraina yang sudah berlangsung selama sembilan bulan. Pemerintah Ukraina di Kiev menuduh pemberontak sengaja melancarkan serangan roket dari pemukiman warga yang kemudian mendapat serangan balasan. Pertempuran antara pemerintah Ukraina dan pemberontak pro-Rusia selama ini terpusat di sekitar bandara Donetsk, tapi akhir-akhir ini pertempuran sudah semakin meluas. Pada Senin lalu, sebuah rumah sakit dan universitas di pusat kota Donetsk, juga mendapat serangan, menyebabkan lima orang pasien dan seorang dokter terluka. Kelompok sukarelawan mendesak kedua pihak yang tertikai agar segera menghentikan tembak-menembak. Diperkirakan 4.800 orang terbunuh sejak pertempuran meletus pada pertengahan April 2014 lalu, sebagian besar korban adalah warga sipil. "Dengan menempatkan pasukan, peralatan perang dan peralatan militer lainnya di area pemukiman, kelompok separatis dan pemerintah Ukraina telah gagal mengambil langkah untuk melindungi warga sipil," demikian dinyaakan Amnesti Internasional. Ancaman terhadap keselamatan warga sipil terlihat jelas saat pemakaman Artyom ketika dua kendaraan pemberontak yang dilengkapi peluncur roket "Grad" melintas di jalan yang jaraknya sekitar lima meter dari peti mati anak tersebut. Tidak lama kemudian, terdengar suara tembakan, menggagetkan mereka yang berada di pemakaman dan menimbulkan kekhawatiran akan tembakan balasan. Dalam suasana dipenuhi rasa takut, pemakaman tersebut tetap dilanjutkan. Bagi Vladimir, siapapun yang melepaskan tembakan roket yang telah menghancurkan rumahnya dan membunuh anaknya, memang sengaja menjadikan warga sebagai target. "Tidak ada target militer dalam radius satu kilometer di sekitar sini. Mereka memang sengaja menargetkan rumah warga," teriak Vladimir yang kemudian meminta agar mereka yang bertanggung jawab harus diseret ke pengadilan. Pemakaman Artyom yang berlangsung dalam keadaan kabut tebal dan gerimis tersebut, dihadiri sekitar sepuluh orang. Nenek Artyom, tidak bisa menahan isak tangis dan mencoba menyenangkan cucunya untuk terakhir kalinya. "Ia memerlukan kelincinya," katanya sambil meletakkan boneka kelinci di atas peti mati. Sementara itu istri Vladimir yang masih dirawat di rumah sakit dalam kondisi luka serius, harus kehilangan salah satu kakinya, sementara anaknya Mikhael, kehilangan salah satu matanya. "Ia belum tahu kalau dia sudah tidak punya adik lagi," kata Vladimir. Perlahan, Vladimir kemudian mengeluarkan jus apel dan permen dari sakunya. Artyom memang sedang menunggu ayahnya pulang sebelum roket tersebut menghantam rumah mereka. "Ini untuk dia," kata Vladimir. (*/sun)