Verviers, Belgia, (Antara/AFP) - Personel polisi Belgia menembak dua orang yang diduga bagian dari kelompok militan hingga tewas, Kamis, dalam kontak senjata yang terjadi saat operasi penyerbuan untuk menumpas komplotan teroris. Ini merupakan peringatan baru untuk Eropa setelah sebelumnya terjadi penyerangan yang menewaskan total 17 orang di Paris. Polisi juga menangkap satu orang lainnya setelah peristiwa yang terjadi di timur Kota Verviers, dekat perbatasan Jerman itu. Kejadian ini disinyalir melibatkan orang-orang yang kembali dari Suriah untuk melakukan jihad. Selain itu kepolisian juga memimpin pencarian teroris di Brussels dan sekitarnya sebagai langkah pengamana setelah serangan kelompok militan Islam terhadap kantor majalah Charlie Hebdo dan toko Yahudi di Paris. "Anggota kelompok ini berjumlah sekitar 10 orang. Sebagian dari mereka baru kembali dari Suriah dan berencana melakukan serangan teroris di Belgia," kata pejabat kantor kejaksaan Belgia Thierry Werts dalam konferensi pers di Brussels. Dia menambahkan para anggota kelompok tersebut menembak pasukan khusus kepolisian dengan senjata otomatis selama beberapa menit. "Akibatnya dua tersangka tewas dan satu orang tertangkap," ujar Werts. Perdana Menteri Belgia Charles Michel, setelah melakukan rapat darurat dengan kepala keamanan, mengatakan bahwa penyerbuan polisi di Belgia tersebut menunjukkan keseriusan Belgia untuk melawan pihak-pihak penyebar teror. Dari halaman daring ("website") Joods Actueel yang dilansir AFP diketahui bahwa pemimpin komunitas Yahudi di Belgia memutuskan untuk menutup sekolah pada Jumat di Antwerp dan Brussels setelah mendapatkan informasi bahwa mereka menjadi target potensial terorisme. Sebelumnya pada Mei 2014, seorang anggota kelompok Islam radikal, Mehdi Nemmouche, menembak mati empat orang di Museum Yahudi di Brussels. Nemmouche adalah warga Prancis yang pernah tinggal di Suriah. Dia telah ditangkap dan didakwa untuk kasus pembunuhan. Diperkirakan sebanyak 325 warga Belgia yang berjuang untuk Negara Islam (IS) dan kelompok lain di Irak serta Suriah, kata pejabat pemerintah setempat, yang membuat Belgia menjadi negara dengan jumlah kaum jihad tertinggi di Eropa. Dua orang yang tertembak di Verviers sudah diawasi sejak kembali dari Suriah seminggu yang lalu dan diyakini akan melakukan serangan, kata jaksa setempat. Jaksa tersebut menambahkan hingga saat ini belum ditemukan hubungan para tersangka di Verviers dan pelaku serangan di Paris. Namun pada Kamis, penyidik memperkirakan pasokan senjata untuk penyerang toko Yahudi di Paris, Amedy Coulibaly, berasal dari seorang warga Belgia bernama Neetin Karasular. Karasular membeli mobil milik kekasih Coulibaly, Hayat Boumeddiene, yang diperkirakan berada di Suriah setelah melarikan diri dari Prancis. Dia menyerahkan diri kepada pihak kepolisian karena takut setelah penyerangan di Prancis, Selasa. Dia mengaku telah berkomunikasi dengan Coulibaly dalam beberapa bulan terakhir. "Isu senjata itu masih dalam penyelidikan," kata juru bicara kejaksaan Eric Van der Sijpt kepada AFP. Kantor berita Belgia seperti dilansir AFP, melaporkan bahwa para penyidik telah menemukan dokumen negosiasi jual beli senjata dengan Coulibaly di rumah Karasular, termasuk sebuah pistol jenis Tokarev yang digunakan dalam penyerangan toko Yahudi. Karasular sendiri akan diadili di pengadilan Charleroi pada Senin. Sementara itu Spanyol membuka investigasi pada Kamis atas kunjungan Coulibaly dan Boumeddiene di Madrid tidak terlalu lama sebelum melakukan serangan. Otoritas Turki mengatakan sebelum menyeberang ke Suriah pada (8/1), Boumeddiene terbang dari Madrid ke Istanbul. Penembakan toko Yahudi oleh Coulibaly, pasangan Boumeddiene, terjadi pada (9/1). (*/sun)