Rusia Katakan Sanksi Baru AS, Kanada, Kobarkan Kerusuhan Ukraina
Sabtu, 20 Desember 2014 21:27 WIB
Moskow, (Antara/AFP) - Putaran terakhir sanksi-sanksi terkait Ukraina oleh Amerika Serikat dan Kanada menghambat upaya untuk menyelesaikan konflik, kata kementerian luar negeri Rusia, Sabtu.
"Sanksi-sanksi diarahkan untuk mengganggu proses politik," kata kementerian dalam satu pernyataan setelah pengumuman langkah-langkah terbaru tentang pada Jumat itu.
"Kami menyarankan Washington dan Ottawa untuk berpikir tentang konsekuensi dari tindakan seperti itu," kata Kemlu Rusia.
Laporan-laporan dari Kiev sebelumnya mengatakan, Amerika Serikat memberlakukan sanksi-sanksi pada Jumat atas Krimea, sementara Ukraina mengumumkan kehilangan lima tentaranya menjelang pembicaraan perdamaian yang dimaksudkan untuk menghentikan perang terhadap para pemberontak dukungan Rusia.
Presiden Barack Obama melarang ekspor barang-barang dan jasa Amerika ke Krimea, satu semenanjung strategis dan destinasi liburan yang Rusia kuasai dari Ukraina Maret lalu.
"Amerika Serikat tak akan menerima pendudukan dan usaha pencaplokan Krimea," kata Obama dalam satu pernyataan.
Langkah-langkah serupa diberlakukan pada Kamis oleh Uni Eropa sementara Barat berusaha menekan Moskow karena pengambilan Krimea dan dukungan bagi pemberontakan oleh para militan pro-Rusia di bagian timur Ukraina.
Kanada juga menambah sanksi-sanksi baru pada Jumat, yang menyasar para pemimpin separatis dan sektor gas dan minyak di Rusia, tempat pemerintah sedang menghadapi penurunan nilai mata uang dan krisis ekonomi.
Sebelumnya Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memperingatkan bahwa sanksi-sanksi yang diancam AS "dapat mengganggu kemungkinan kerja sama normal antara negara kita untuk waktu lama".
Tekanan Barat tersebut terjadi ketika Ukraina dan para pemberontak siap-siap mengadakan pembicaraan proses perdamaian yang terhenti.
Namun, militer Ukraina melaporkan kehilangan lima tentara pada Jumat.
Tahap berikut dimaksudkan menjadi perundingan-perundingan komprehensif.
Presiden Ukraina Petro Poroshenko berharap dapat memulai negosiasi pada Minggu, dengan bantuan utusan-utusan Eropa dan Rusia di Minsk, Ibu Kota Belarusia. Tapi seorang tokoh pemberontak mengatakan para pemberontak hanya akan siap pada Senin.
"Kami sepakati daftar umum isu-isu yang perlu kami bahas," kata Vladislav Deynego, perunding pemberontak, kepada kantor berita AFP melalui telepon. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinas Perikanan Pasaman Barat katakan 70 persen nelayan di daerah itu masih tradisional
03 September 2023 17:46 WIB, 2023
Ferdy Sambo katakan siap bertanggung jawab atas tindak pidana yang dilakukannya
01 November 2022 14:01 WIB, 2022
Jaksa Agung katakan penerapan hukuman mati koruptor perlu dikaji bersama
18 November 2021 12:32 WIB, 2021
Pelatih Persib katakan Ezechiel tak turun lawan Bhayangkara karena belum fit
24 October 2019 6:14 WIB, 2019
Dipertanyakan banyak pihak, Menteri Kelautan katakan tetap lakukan penenggelaman
23 October 2019 14:52 WIB, 2019
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018