Rezim Suriah Kehilangan Dua Pangkalan Penting
Selasa, 16 Desember 2014 7:02 WIB
Beirut, (Antara/AFP) - Tentara Suriah Senin kehilangan kendali dua pangkalan strategis di provinsi barat laut Idlib pada serangan yang dikoordinasikan Al-Qaida dan kelompok-kelompok Islam lainnya, kata satu kelompok pemantau.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan Front Al-Nusra, afiliasi Al-Qaida, dalam koordinasi dengan gerilyawan Jund al-Aqsa dan Ahrar al-Sham, menyita Hamidiyeh dan Wadi al-Deif basa, posisi rezim terbesar di Idlib.
Front Al-Nusra pada awalnya melaporkan kemenangan kilat di Wadi al-Deif, menempatkan sebagian besar wilayah Provinsi Idlib, yang berbatasan dengan Turki, di bawah kendali kelompok jihad.
Pengambilalihan itu unjuk kekuatan untuk cabang Al-Qaida, yang pada November menggerakkan pemberontakan utama mengupayakan pemecatan Presiden Bashar al-Assad dari Provinsi Idlib.
Para pejuang oposisi utama telah berjuang untuk Wadi al-Deif dan
Hamidiyeh selama sekitar dua tahun, tetapi meskipun berulang kali mencoba gagal untuk merebutnya dari pasukan pemerintah.
"Kemajuan para pejuang jihad memiliki makna simbolik yang besar, dan itu juga menunjukkan gerilyawan Front Al-Nusra benar-benar mengendalikan daerah itu," kata Direktur SOHR Rami Abdel Rahman.
Dalam serangan terhadap Wadi al-Deif, "Front Al-Nusra menggunakan tank-tank dan senjata-senjata berat lainnya yang dirampas bulan lalu dari Front Revolusioner Suriah (yang didukung Barat)," katanya kepada AFP.
Kekalahan Front Al-Nusra atas SRF dipandang sebagai pukulan berat bagi upaya AS untuk membuat dan melatih kekuatan pemberontak moderat sebagai penyeimbang kelompok garis keras Negara Islam (IS).
Dalam beberapa jam kemenangan Wadi al-Deif mereka, Front Al-Nusra dan kelompok pemberontak dua lainnya juga mengambil alih Hamidiyeh, kata Observatorium.
"Mereka mengambil 15 tentara tahanan dari Hamidiyeh," kata Abdel Rahman.
Ahrar al-Sham telah sampai September mencoba untuk menjauhkan diri dari banyak kelompok garis keras yang berjuang di Suriah.
Tetapi pada 9 September satu ledakan menewaskan seluruh pimpinan puncaknya, dan menurut Abdel Rahman, "ini yang kemudian mendorong kelompok itu untuk menyelaraskan dirinya lebih terbuka dengan Front Al-Nusra. Sekarang keduanya berjuang berdampingan."
Pada Senin, Ahrar al-Sham memecah kesunyian pada ledakan September dan menuduh "kelompok kriminal" dengan "hubungan internasional", yang kata Abdel Rahman adalah rujukan jelas bagi badan-badan intelijen Barat.
Idlib merupakan salah satu provinsi pertama yang jatuh dari tangan pemerintah Suriah, segera setelah pecah pemberontakan bersenjata 2011 melawan kekuasaan Bashar al-Assad. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Arab Saudi dan Qatar kecam keputusan Israel soal Dataran Tinggi Golan
16 December 2024 9:11 WIB, 2024
Ribuan warga Lebanon melarikan diri ke Suriah di tengah serbuan Israel
29 September 2024 5:52 WIB, 2024
Hokky Caraka akui stamina timnas U-20 sempat menurun saat melawan Suriah
06 March 2023 6:26 WIB, 2023
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018