Kemenhut Siap Perluas Program Adopsi Pohon
Sabtu, 27 September 2014 20:49 WIB
Jakarta, (Antara) - Kementerian Kehutanan siap memperluas jangkauan program adopsi pohon oleh masyarakat dari yang saat ini hanya di kawasan area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kemenhut Sony Partono di sela pembukaan Festival Sarongge II di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu, mengatakan program adopsi pohon merupakan bentuk pelibatan masyarakat dalam menjaga hutan.
Melalui program tersebut, lanjutnya, para adopter menyumbang dana untuk adopsi pohon sedangkan petani yang menanam dan merawatnya.
"Dengan begitu petani memiliki alternatif sumber pendapatan dan tak lagi merambah hutan," katanya.
Menurut dia, dalam lima tahun ini sudah 38 hektare area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berhasil ditanami dengan pohon endemik hasil dengan melibatkan 758 orang petani dengan jumlah pohon sebanyak 1.700 pohon.
Melihat hasil tersebut, Soni mengatakan, maka program adopsi pohon ke depan juga akan dikembangkan di sejumlah taman nasional seperti Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Merapi dan Merbabu, serta Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak.
Dirjen menyatakan, melalui program ini masyarakat mendapatkan dana sebesar Rp110 ribu per pohon selama tiga tahun dan nantinya setelah tiga tahun akan mendapatkan lagi.
Menurut dia, hasil yang diperoleh masyarakat tidak hanya dari merawat pohon namun juga dapat beternak serta bisa mengembangkan desa wisata di kawasan tersebut, sebagaimana di Desa Sarongge.
"Dengan program ini maka masyarakat tidak lagi menebang pohon karena mereka mendapatkan pendapatan alternatif," katanya.
Sementara itu terkait pelaksanaan Festival Sarongge 2014, dia menyatakan kegiatan yang memasuki tahun kedua itu tujuannya untuk membantu ekonomi warga dan melestarikan budaya nenek moyang Desa Sarongge.
Dia mengapresiasi Festival Sarongge dan berharap rutin diadakan tiap tahun.
"Tahun 2013 sudah pernah kita laksanakan tapi belum banyak peminatnya. Hari ini kita adakan lagi (Festival Sarongge) tahun 2014 dan hampir semua pihak yang berkepentingan ikut festival ini," ujarnya.
Festival yang digelar selama dua hari (27-28/9) itu dimeriahkan aksi panggung budaya Sunda, ritual Ngaruwat Cai dan bazaar kuliner khas Desa Sarongge.
Selain itu wisatawan juga dapat mengikuti kegiatan seperti tea walking, camping, menanam pohon, farm organic, budidaya kambing dan kelinci hingga jelajah hutan.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dalam sambutan tertulisnya mengatakan, keberhasilan Kampung Sarongge merubah pola hidup masyarakat dari menebang pohon menjadi memelihara hutan dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui agroforestry dan silvopastura tanpa merusak hutan patut ditiru dalam mengatasi dampak perubahan iklim. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018