Putin-Merkel Tekankan Pertahankan Gencatan Senjata Ukraina
Selasa, 16 September 2014 6:54 WIB
Moskow, (Antara/Reuters/AFP) - Presiden Rusia Vladimir Putin
dan Kanselir Jerman Angela Merkel membahas pentingnya mempertahankan gencatan senjata di Ukraina dalam percakapan telepon, kata Kremlin dalam satu pernyataan Senin.
"Perkembangan situasi Ukraina telah dibahas, termasuk pemeliharaan dengan teliti gencatan senjata oleh para pihak dalam konflik antar-Ukraina dan efisiensi pemantau gencatan senjata atas nama Organisasi untuk Keamanan dan Kerja sama di Eropa (OSCE)," kata pernyataan itu.
Laporan-laporan AFP dari Kiev sebelumnya mengatakan, ketegangan-ketegangan terkait soal Ukraina memburuk setelah Kiev menuduh Kremlin berusaha "menghapus" bekas negara Soviet yang kini pro Barat tersebut, sementara itu Moskow menuding Washington mengatur krisis semuanya.
Kiev dan Moskow saling menyalahkan pada Sabtu di tengah-tengah Barat memberlakukan sanksi atas Rusia dan gencatan senjata yang telah berlangsung sembilan hari diuji oleh pertempuran selama beberapa jam untuk menguasai bandar udara strategis di bagian timur Ukraina.
Rusia memicu ketegangan lagi dengan mengirim konvoi 220 truk ke wilayah yang dikuasai pemberontak. Dikatakannya konvoi itu membawa bantuan tetapi tak pernah diperiksa oleh para pemantau Eropa atau tentara Ukraina di perbatasan.
Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk menyeru para pemimpin dunia jangan percaya kepada Presiden Rusia Vladimir Putin kendati keputusannya untuk Moskow menandatangani satu gencatan senjata mengakhiri perang lima bulan yang telah merenggut lebih 2.700 juta jiwa.
Perjanjian perdamaian yang dimediasi Eropa dan ditandatangani Kiev dengan Moskow dan dua pemimpin pemberontak telah membantu situasi tenang dari pertempuran di wilayah timur Ukraina yang secara ekonomi vital.
Tetapi baik Eropa dan Amerika Serikat masih curiga akan maksud Putin dan masih menunggunya untuk menarik 1.000 tentara yang mereka klaim telah membantu pemberontak menguasai wilayah pada hari-hari menjelang gencatan senjata.
Moskow tidak hanya membantah memberikan dukungannya bagi para pemberontak, tetapi juga menuding Washington menyokong protes-protes Februari yang menggulingkan pemimpin pro Kremlin dan membawa satu tim baru untuk menjadi anggota Uni Eropa dan sekarang berusaha menjadi anggota NATO.
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengambil perkecualian khusus dengan langkah-langkah bahwa memperketat sanksi-sanksi AS yang sudah berlaku, dan untuk pertama kali menyasar dua perusahaan minyak swasta dan juga perusahaan gas alam raksasa Gazprom.
Lavrov menuduh Washington "mencoba menggunakan krisis di Ukraina untuk memutus hubungan ekonomi antara EU dan Rusia dan memaksa Eropa membeli gas AS dengan harga lebih tinggi." (*/sun)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dikecam karena membandingkan Merkel dengan Hitler, Dubes Malta langsung mundur
11 May 2020 10:21 WIB, 2020
Angela Merkel jalani swakarantina setelah kontak dengan dokter positif corona
23 March 2020 9:59 WIB, 2020
Kanselir Jerman Angela Merkel tegaskan penyelesaian dua-negara kepada Netanyahu
16 April 2019 8:34 WIB, 2019
Jerman bereaksi terbunuhnya Khashoggi, hentikan ekspor senjata ke Arab Saudi
22 October 2018 9:52 WIB, 2018
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018