Washington, (Antara/AFP) - Uni Emirat Arab (UAE) secara diam-diam mengirim pesawat-pesawat tempur untuk menggempur milisi Islam di Libya pekan lalu, dengan menggunakan pangkalan-pangkalan di Mesir, kata para pejabat Amerika Serikat, Senin. Dua serangan dilakukan dalam tujuh hari merupakan satu perluasan konflik itu sementara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari Uni Eropa mengecam "campurtangan pihak asing" di Libya. Serangan-serangan itu menandakan satu langkah menuju aksi langsung oleh negara-negara Arab kawasan itu yang sebelumnya ikut campur tangan dalam perang-perang di Libya, Suriah dan Irak dalam satu perjuangan bagi kekuasaan dan pengaruh. Serangan-serangan bom itu pertama dilaporkan oleh surat kabar The New York Times dan pasukan Islam di Libya menyatakan ada serangan-serangan. "UAE melakukan serangan-serangan itu," kata salah seorang penjabat yang tidak bersedia namanya disebutkan kepada AFP. Menjawab pertanyaan mengenai hal itu, pejabat senior AS itu mengatakan" laporan itu akurat." AS tidak ikut serta atau memberi bantuan apapun dalam pemboman-pemboman itu, kata dua pejabat itu. Serangan-serangan udara prrtama dilakukan sepekan lalu, dipusatkan pada sasaran-sasaran di Tripoli yang dikuasai milisi-milisi, termasuk satu depot senjata kecil, kata surat kabar itu. Serangan kedua dilakukan di selatan kota itu Sabtu pagi yang ditujukan pada lokasi-lokasi peluncur-peluncur roket, kendaraan-kendaraan militer dan satu gudang, kata The Times. UAE, yang telah menghabiskan miliaran dolar AS untuk membeli pesawat-pesawat buatan AS dan senjata-senjata canggh lainnya, menyediakan pesawat militer, pesawat pengisi bahan bakar di udara dan para awak untuk membom Libya, sementara Kairo memberikan akses pada pangkalan-pangkalan udaranya, kata surat kabar itu. Tetapi tetap tidak jelas apakah Mesir dan UAE telah memberitahu kepada AS terlebih dulu mengenai serangan-serangan udara itu. Ketika ditanya mengenai masalah itu, para pejabat AS tidak dapat mengonfirmasikan bahwa Mesir dan UAE telah meninggalkan sama sekali AS dalam serangan-serangan udara itu. Baik UAE maupun Mesir secara terbuka mengakui berperan dalam serangan-serangan udara itu. Mesir, Arab Saudi dan UAE menganggap kelompok-kelompok garis keras Islam di kawasan itu sebagai satu ancaman serius dan telah memperkuat kerja sama terhadap apa yang mereka anggap sebagai satu bahaya bersama itu. Kelompok-kelompok Islam yang muncul setelah pemberontakan rakyat Arab (Arab Spring) mendapat dukungan dari Qatar dan Turki. Pemboman-pemboman itu dilakukan saat satu usaha diplomatik Barat bagi penyelesaian damai untuk menghentikan aksi kekerasan di Libya, di mana pihak pemerintah menghadapi milisi-milisi yang punya hubungan dengan Islam. Inggris, Prancis, Jerman, Italia dan AS mengeluarkan satu pernyatan bersama mengecam "peningkatan petempuran dan aksi kekerasan" di Libya dan mendesak satu transisi yang demokratik dan damai. Negara-negara Barat menyatakan sangat prihatin atas aksi-aksi kekerasan "terhadap daerah-daerah permukiman, fasilitas-fasilitas publik dan prasarana-prasarana penting, oleh serangan-serangan darat dan udara." Dalam sepuluh tahun belakangan ini UAE membeli belasan peawat tempur F-16 serta pesawat transpor, bom-bom yang dikendalikan dengan tepat dan rudal-rudal canggih bagi pesawat-pesawat tempur mereka. Sekitar 5.000 tentara AS berpangkalan di UAE, sebagian besar dari mereka angkatan udara yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al-Dhafra. (*/sun)