Najaf, Irak, (Antara/AFP) - Imam Besar Syiah Iraq Ayatollah Ali al-Sistani menyeru agar Perdana Menteri kontroversial Nuri Al-Maliki diganti dengan tokoh yang lebih mampu untuk menjadi pemersatu, menurut sebuah surat yang diumumkan, Rabu. "Saya melihat perlunya untuk mempercepat pemilihan perdana menteri baru," tulis Sistani dalam surat tulisan tangan yang ditujukan kepada para pemimpin Partai Dawa dari Maliki, yang diumumkan oleh kantornya lebih dari sebulan setelah ditulis. Perdana menteri baru haruslah seseorang "yang dapat diterima oleh semua kalangan dan dapat bekerja sama dengan para pemimpin politik beragam pihak (baik secara agama maupun etnis di Irak) untuk menyelamatkan negara dari bahaya terorisme, perang sektarian dan perpecahan" tambahnya. Seruan Sistani itu, yang memiliki jutaan pendukung, akan memberikan dampak besar di kalangan warga mayoritas Arab Syiah. Pengumuman tentang keberadaan surat itu bersamaan dengan saat Maliki, perdana menteri petahana yang berniat menjabat untuk ketiga kalinya, terus berupaya menolak tekanan internasional dan presiden, bersikeras bahwa untuk menggantinya diperlukan perintah pengadilan federal. "Saya menyatakan bahwa pemerintahan akan terus berjalan dan tidak ada penggantian pemerintahan tanpa adanya keputusan melalui pengadilan federal," kata Maliki. Sebelumnya, perdana menteri yang telah menjabat dua periode itu menuduh Presiden Fuad Masum melanggar konstitusi dengan menyetujui pencalonan Haidar Al-Abadi, anggota lain Partai Dawa, ketimbang dirinya. Maliki bersumpah akan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun bahkan sebelum munculnya surat Sistani, para pengamat mengatakan Maliki telah kehilangan banyak dukungan untuk tetap berkuasa. Dukungan dari dunia internasional pun lebih mengarah kepada Abadi, termasuk dari Tehran dan Washington, dua kekuatan besar yang berpengaruh di Irak. (*/sun)